Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Raja Harishchandra yang Tak Pernah Berdusta

3 menit baca

Adegan Raja Harishchandra (1913) karya Dadasaheb Phalke, film cerita panjang pertama India. Gambar: Dadasaheb Phalke · Public domain · sumber

Raja Harishchandra memerintah dengan adil, dan rakyatnya hidup makmur. Ia tinggal bersama permaisurinya, Shaivya, dan putra mereka, Rohitashva. Ia dikenal sebagai raja yang selalu menepati ucapannya. Tak lama kemudian, sifat itu diuji sampai ke batasnya.

Suatu hari, ketika berburu, ia mendengar suara perempuan menjerit minta tolong. Ia bergegas dengan busur di tangan. Jeritan itu ternyata hanyalah tipu daya Wighnaraja, penguasa rintangan, yang ingin mengganggu tapa Resi Wiswamitra. Ketergesaan sang raja membuyarkan tapa itu, dan sang resi murka.

Harishchandra berlutut memohon maaf dan berjanji akan memenuhi keinginan sang resi. Wiswamitra meminta dakshina, persembahan untuk upacara besarnya. “Berikan semua milikmu, kecuali dirimu, istrimu, dan anakmu.”

Sang raja menyetujuinya tanpa tawar-menawar. Kerajaan, harta, bahkan pakaian kebesarannya ia serahkan. Ketika ia sudah akan pergi, Wiswamitra menagih satu lagi: dakshina yang belum dibayar. Harishchandra tak punya apa-apa lagi, tetapi ia berjanji melunasinya dalam waktu sebulan.

Bersama istri dan anaknya, ia berjalan keluar dari kerajaannya dan tiba di Kashi. Wiswamitra sudah menunggu di sana. Hari terakhir hampir habis. Rohitashva menangis kelaparan.

“Juallah aku,” kata Shaivya pelan.

Mendengar itu Harishchandra jatuh pingsan. Namun tak ada jalan lain. Di tengah pasar, seorang raja menawarkan istrinya sebagai budak. Seorang lelaki tua membelinya. Rohitashva menangis tak mau lepas dari ibunya, sehingga ia pun ikut dibeli.

Uang itu diberikan kepada Wiswamitra, dan sang resi berkata belum cukup. Maka Harishchandra menjual dirinya sendiri. Pembelinya seorang chandala, orang yang dianggap paling rendah, yang mempekerjakannya di tempat pembakaran mayat. Di sana, raja yang dulu dielu-elukan itu menjaga api dan menarik bayaran untuk setiap jenazah, sebagian untuk tuannya, sebagian untuk raja setempat. Lama sekali ia hidup di antara abu, sampai rambut dan janggutnya kusut dan tak seorang pun bisa mengenalinya.

Pada suatu malam, seorang perempuan kurus datang menangis ke tempat itu sambil membawa jasad seorang anak yang mati dipatuk ular. Harishchandra menatapnya lama. Perempuan itu menatapnya kembali. Lalu mereka saling mengenali.

Tak ada kata-kata yang cukup untuk malam itu. Rohitashva, anak mereka, sudah tiada. Shaivya tak memiliki apa-apa selain kain di tubuhnya, dan bagi orang yang setia pada janji, aturan tetap aturan: tanpa bayaran, tidak ada pembakaran. Sang raja tak mau mengkhianati kewajiban yang telah ia terima, bahkan terhadap anaknya sendiri.

Pasangan itu memutuskan akan ikut naik ke api bersama putra mereka. Mereka berdoa untuk terakhir kali.

Saat itulah para dewa muncul, dipimpin oleh Dharma, bersama Dewa Indra dan Resi Wiswamitra sendiri. Dharma mengungkapkan bahwa dialah sang chandala itu. Semuanya hanyalah ujian. Indra memercikkan air keabadian ke atas tumpukan kayu, dan Rohitashva terbangun seperti orang yang baru selesai tidur.

Para dewa mengundang Harishchandra naik ke surga. Ia menggeleng. “Rakyatku ikut berduka ketika aku pergi. Aku tak mau naik ke surga tanpa mereka.”

Indra mengabulkan permohonannya, dan menurut kisah itu, sang raja naik ke surga bersama seluruh rakyatnya.

💖 Pesan Moral

  • Janji diuji saat kita tak lagi diuntungkan. Menepati janji itu mudah ketika kita kaya dan berkuasa.
  • Harga diri tidak hilang bersama jabatan. Di tempat pembakaran mayat, Harishchandra tetap orang yang sama dengan raja di singgasana.
  • Pemimpin yang baik tidak ingin selamat sendirian. Di ambang surga pun, ia masih memikirkan rakyatnya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Markandeya Purana, salah satu versi. Dalam tradisi lain, Shaivya dikenal dengan nama Taramati.