Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Shravan Kumar Memikul Orang Tuanya

3 menit baca

Raja Dasaratha menghadap orang tua Shravan yang buta, lukisan Laharu dari Chamba. Gambar: Laharu of Chamba · Public domain · sumber

Sepasang pertapa tua hidup di hutan, dan keduanya buta. Mereka hanya punya seorang putra, yang dalam tradisi rakyat India dikenal dengan nama Shravan Kumar. Anak itulah mata bagi ayah dan ibunya. Ia mencari makan, mengambil air, dan menuntun mereka ke mana pun mereka perlu pergi.

Ketika usia orang tuanya makin lanjut, mereka ingin berziarah ke tempat-tempat suci sebelum meninggal. Shravan tak punya uang untuk kendaraan. Maka menurut cerita rakyat, ia mengambil sebatang bambu yang kuat dan menggantungkan keranjang pada kedua ujungnya. Ibunya duduk di satu keranjang, ayahnya di keranjang yang lain, dan ia memikul bambu itu di bahu. Begitulah ia berjalan dari satu tempat suci ke tempat suci yang lain.

Suatu malam di musim hujan, mereka beristirahat di hutan dekat Sungai Sarayu. Orang tuanya haus. Shravan mengambil kendi dan berjalan menembus gelap menuju sungai.

Pada saat yang sama, seorang pangeran muda dari Ayodhya sedang berburu di tepi sungai itu. Namanya Dasarata, dan kelak ia menjadi raja. Ia terkenal sebagai pemanah yang bisa membidik hanya dari suara, dan ia sangat bangga akan keahliannya. Malam itu ia menunggu gajah atau binatang lain yang turun untuk minum.

Dalam kegelapan ia mendengar bunyi air masuk ke dalam kendi. Bunyi itu terdengar seperti gajah yang sedang minum. Ia menarik busur, mengarahkan panah ke sumber suara, dan melepaskannya.

Terdengar jeritan manusia. “Aduh! Mengapa panah mengenai orang seperti aku, pertapa miskin yang tak mengganggu siapa pun? Aku datang hanya untuk mengambil air.”

Dasarata berlari ke tepi sungai dan menjatuhkan busurnya. Seorang pemuda berpakaian pertapa terbaring dengan panah di dadanya, kendinya tergeletak di samping. Dengan napas yang tersisa, pemuda itu tidak mengutuknya. Ia hanya memikirkan orang tuanya.

“Ayah dan ibuku buta, dan mereka sedang menunggu air. Pergilah kepada mereka dan katakan apa yang terjadi. Cabutlah panah ini.”

Dasarata mencabutnya, dan pemuda itu menghembuskan napas terakhir.

Dengan tangan gemetar, sang pangeran mengisi kendi itu dan mengikuti jalan setapak ke tempat yang ditunjukkan. Sepasang orang tua duduk berdampingan di sana seperti dua burung yang sayapnya terpotong. Mendengar langkah kaki, sang ayah berkata, “Anakku, cepatlah bawa airnya. Mengapa lama sekali? Ibumu kehausan. Kalau kami pernah menyakiti hatimu, lupakanlah.”

Dasarata berdiri dengan kendi di tangan, sulit bersuara. Akhirnya ia menyebutkan namanya dan menceritakan segalanya. Ia memohon ampun.

Ia menuntun keduanya ke tempat putra mereka berbaring. Sang ayah meraba tubuh anaknya, memeluknya, dan bertanya mengapa anak itu tak mau bicara lagi.

Ketika tangisnya mereda, sang pertapa berkata kepada Dasarata bahwa dosanya tidak sebesar bila ia melakukannya dengan sengaja, dan kejujurannya telah menyelamatkannya. Namun suatu hari kelak, ia pun akan meninggal karena berduka atas putranya.

Tak lama setelah itu, kedua orang tua itu menyusul anak mereka.

Puluhan tahun berlalu. Dasarata telah menjadi raja besar ketika ia terpaksa membuang putra yang paling dicintainya, Rama, ke hutan. Pada malam keenam setelah Rama pergi, ia terbaring tak bisa tidur dan menceritakan kejadian lama itu kepada Permaisuri Kausalya. Tak lama setelah kisah itu selesai, ia meninggal dengan menyebut nama anaknya.

💖 Pesan Moral

  • Bakti pada orang tua tak harus menunggu kaya. Shravan hanya punya bahu dan sebatang bambu, dan itu sudah cukup.
  • Kebanggaan pada kemampuan bisa membutakan. Dasarata melepaskan panah tanpa memastikan sasarannya, karena merasa yakin pada telinganya.
  • Akui kesalahan, seberat apa pun. Dasarata bisa saja pergi diam-diam. Ia memilih datang dan berkata jujur, walaupun hal itu membawa akibat seumur hidup.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Ramayana Walmiki, Ayodhya Kanda (penuturan Dasarata tentang putra pertapa). Nama Shravan Kumar dan kisah pikulan berasal dari tradisi rakyat India; Walmiki tidak menyebutkannya.