Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sama, Anak yang Berbakti

3 menit baca

Lukisan dinding modern dari kisah Sama: panah raja mengenai pemuda yang sedang mengambil air. Gambar: Photo Dharma from Sadao, Thailand · CC BY 2.0 · sumber

Di tepi Sungai Migasammata di Himalaya ada sebuah pertapaan sederhana. Di sana tinggal sepasang suami istri, Dukulaka dan Parika, yang meninggalkan kehidupan keluarga pemburu demi hidup bertapa. Anak mereka, Sama, seorang pemuda berkulit keemasan dan lembut hatinya, begitu ramah sampai rusa-rusa hutan berjalan bersamanya tanpa rasa takut.

Suatu hari, saat hujan lebat, kedua orang tuanya berteduh di dekat sebuah gundukan tanah. Seekor ular di dalamnya mengembuskan racun, dan keduanya menjadi buta. Sama mencari mereka dan menemukan mereka meraba-raba dalam kegelapan. Ia menangis, lalu tertawa. Mereka bertanya mengapa.

“Aku menangis karena Ayah dan Ibu kehilangan penglihatan selagi masih muda. Aku tertawa karena aku masih ada, dan aku akan merawat kalian.”

Sejak itu Sama yang mengurus semuanya. Ia merentangkan tali di sekitar pondok agar orang tuanya bisa berjalan sendiri ke tempat mandi dan ke tempat buang air. Setiap hari ia mencari buah dan mengambil air dari sungai, ditemani rusa-rusa, dan pulang sebelum gelap.

Pada suatu sore Raja Piliyakkha dari Benares sedang berburu di daerah itu. Dari balik semak ia melihat seorang pemuda berjalan ke sungai dengan kendi di bahu, dikelilingi kawanan rusa. Ia heran, lalu ingin menangkapnya. Takut buruannya lari, ia melepaskan panah beracun.

Panah itu menembus tubuh Sama. Kendinya jatuh. Ia roboh di pasir, dan rusa-rusa lari. Sama tidak mengutuk siapa pun. Ia hanya berseru pelan, bertanya siapa yang memanahnya dan apa salahnya.

Raja mendekat. Melihat pemuda itu tidak marah kepadanya, ia gemetar. Mula-mula ia berbohong dengan mengatakan bahwa ia memanah rusa, lalu ia mengakui perbuatannya.

“Aku tidak memikirkan diriku,” kata Sama, “tetapi di pondok itu ada dua orang tua yang buta. Persediaan makanan mereka paling lama hanya seminggu, dan semuanya bergantung padaku. Kalau Tuanku bersedia, rawatlah mereka.”

Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri, dan raja mengira ia telah mati. Sang raja menangis di tepi sungai. Sesosok dewi penjaga bukit, Bahusodari, yang dulu pernah menjadi ibu Sama, berbisik kepadanya agar ia pergi dan menanggung akibat perbuatannya.

Raja mengangkat kendi air dan berjalan mengikuti jalan setapak ke pondok. Dari dalam, Dukulaka mendengar langkah kaki yang tidak ia kenal. Dengan suara tertahan raja mengaku bahwa ia telah membunuh putra mereka. Parika dan Dukulaka tidak mengucapkan satu pun kata kasar. Mereka hanya meminta diantar ke tempat anak mereka.

Di samping tubuh Sama, orang tuanya memegang kepala dan kakinya. Dengan seluruh kebenaran hidup mereka, mereka berkata: jika benar anak ini hidup dalam kebajikan dan bakti, biarlah racunnya hilang. Dewi Bahusodari mengucapkan hal yang sama. Racun itu pun lenyap, Sama membuka mata, dan penglihatan kedua orang tuanya kembali.

Raja tertegun di hadapan mereka. Sama, yang baru saja kembali dari maut, tidak menuntut apa-apa darinya. Ia hanya menasihati raja tentang sepuluh kewajiban: kepada orang tua, anak dan istri, sahabat, rakyat, dan seterusnya.

💖 Pesan Moral

  • Bakti adalah pekerjaan harian. Tali yang direntang, air yang diambil, dan buah yang dibawa pulang itulah bentuk nyata kasih.
  • Korban bisa lebih luhur daripada pelakunya. Yang pertama diucapkan Sama bukan keluhan, melainkan kecemasan untuk orang lain.
  • Berani mengakui kesalahan di hadapan yang dilukai. Raja bisa pulang diam-diam, tetapi ia datang sendiri ke pondok itu.
  • Hasrat sesaat bisa menimbulkan luka panjang. Sebatang panah yang dilepas karena penasaran hampir menghancurkan tiga nyawa.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Sama Jataka (Jataka no. 540), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis; bentuk ringkas dari kisah aslinya yang panjang.