Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Keledai yang Ingin Bernyanyi

3 menit baca

Seekor keledai dengan beban besar berjalan bersama pemiliknya. Punggungnya mengenal kerja keras, seperti keledai tukang cuci dalam cerita ini. Gambar: Robert Keagle · Public domain · sumber

Sepanjang siang, seekor keledai memanggul buntalan cucian milik majikannya. Begitu malam tiba, ia dilepas dan boleh berkeliaran ke mana saja. Pada salah satu malamnya di ladang, ia berkenalan dengan seekor serigala, dan keduanya segera menjadi sahabat.

Persahabatan itu menguntungkan keduanya. Mereka menemukan celah di pagar sebuah kebun mentimun, menyusup masuk, dan makan sampai kenyang. Menjelang fajar, masing-masing pulang ke tempatnya. Malam berikutnya mereka datang lagi, dan begitu seterusnya. Pemilik kebun tidak pernah tahu siapa pencurinya.

Suatu malam, bulan bersinar terang di atas kebun. Si keledai berdiri di antara mentimun dengan perut penuh dan hati riang.

“Keponakanku,” katanya kepada serigala, “malam ini indah sekali. Rasanya sayang kalau dilewatkan tanpa musik. Aku akan bernyanyi.”

Serigala berhenti mengunyah. “Jangan, Paman. Kita ini sedang mencuri. Pencuri harus diam. Lagi pula, maaf saja, suara Paman tidak merdu. Bunyinya seperti tiupan sangkakala kerang. Para petani akan mendengarnya dari jauh, lalu datang dan mengikat atau membunuh kita. Makan saja yang tenang.”

Si keledai merasa terhina. “Itu karena kau tinggal di hutan,” katanya dengan angkuh. “Kau tidak punya selera seni.”

“Betul, Paman. Tapi suara Paman parau. Mengapa berbuat sesuatu yang merugikan diri sendiri?”

“Bodoh!” bentak si keledai. “Kaukira aku tidak paham ilmu musik?”

Lalu, di tengah kebun curian itu, ia mulai berceramah. Ia menyebutkan tujuh nada, tiga tangga nada, dua puluh satu modulasi, empat puluh sembilan tinggi nada, dan jumlah lagu yang tercatat dalam kitab-kitab. Ia menghafal semuanya dengan lancar.

Serigala memandanginya beberapa saat. Ia sadar bahwa keledai yang begitu hafal teori tak mungkin mau mendengar kata-kata sederhana.

“Baiklah, Paman,” katanya. “Aku akan berjaga di celah pagar, kalau-kalau ada petani yang datang. Silakan bernyanyi sepuas hati.”

Serigala pun pergi ke celah pagar, lalu mundur ke tempat yang aman.

Si keledai menjulurkan leher, memejamkan mata, dan melepaskan suaranya. Ringkikan panjang yang serak membelah malam, terdengar sampai ke rumah-rumah petani. Para petani terbangun sambil menggertakkan gigi. Mereka menyambar pentungan dan menyerbu ke kebun.

Keledai itu dipukuli sampai roboh. Supaya tidak bisa kabur, para petani mengikatkan sebuah lesung berlubang di lehernya, lalu kembali tidur.

Tak lama kemudian si keledai bangkit. Keledai memang cepat melupakan sakit. Dengan lesung berat menggantung di lehernya, ia menerjang pagar dan berlari pergi.

Dari kejauhan, serigala melihatnya dan tersenyum. “Nyanyian yang hebat, Paman! Mengapa tidak berhenti ketika aku memintamu? Lihat, kalung yang bagus sekali. Pasti itu medali untuk penyanyi terbaik.”

💖 Pesan Moral

  • Tahu teori belum tentu bisa. Si keledai hafal semua istilah musik, tetapi tidak pernah mau mendengar suaranya sendiri.
  • Ada waktu untuk setiap hal. Bernyanyi tidak salah. Bernyanyi di kebun orang pada tengah malam, sambil mencuri, itu soal lain.
  • Sahabat yang berani mengkritik layak didengar. Dan kalau kritiknya tetap ditolak, serigala itu memberi contoh: jangan ikut menanggung pukulannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Keledai Pemusik” dalam Panchatantra, Buku V (Tindakan Tanpa Pertimbangan).