Savitri Menjemput Sang Suami
Savitri memohon kepada Yama, dalam cetakan Calcutta Art Studio. Gambar: The Calcutta Art Studio · Public domain · sumber
Raja Aswapati dari Madra lama tidak dikaruniai anak, sampai lahirlah seorang putri yang diberi nama Savitri. Ia tumbuh begitu anggun dan berwibawa sehingga tak seorang pangeran pun berani melamarnya. Ayahnya lalu menyuruhnya mencari suami sendiri.
Savitri berkeliling mengunjungi pertapaan dan negeri-negeri. Ketika pulang, ia berkata bahwa hatinya telah memilih Satyawan, putra Raja Dyumatsena dari Salwa. Raja itu telah buta, kehilangan takhtanya, dan kini tinggal di hutan bersama keluarganya.
Resi Narada, yang sedang bertamu, mendengarnya dan terkejut. “Satyawan pemuda yang berbudi luhur. Hanya saja ada satu kekurangan, dan kekurangan itu tak bisa diatasi: setahun dari hari ini, ia akan meninggal.”
Raja Aswapati meminta putrinya memilih orang lain. Savitri menjawab dengan tenang, “Hidup panjang atau pendek, berbudi atau tidak, aku sudah memilih sekali. Aku tidak akan memilih dua kali.”
Mereka pun menikah. Savitri melepaskan perhiasannya, mengenakan pakaian kulit kayu, dan merawat mertuanya di hutan. Tak seorang pun ia beri tahu soal ramalan itu. Ia menghitung hari di dalam hati.
Empat hari sebelum waktunya tiba, ia bertekad berpuasa dan berdiri tiga malam tanpa tidur. Pada hari yang ditentukan, ketika Satyawan berangkat ke hutan mencari kayu dan buah, Savitri meminta izin untuk ikut.
Di tengah hutan, sambil membelah kayu, Satyawan tiba-tiba merasa kepalanya sakit. Ia berbaring dengan kepala di pangkuan Savitri dan tertidur. Lalu Savitri melihat sosok berpakaian merah dan berkulit gelap, bersinar seperti matahari, dengan jerat di tangannya, berdiri memandangi suaminya.
“Akulah Yama,” kata sosok itu. “Waktu Satyawan telah habis. Karena ia sangat berbudi, aku sendiri yang datang menjemputnya.”
Yama menarik keluar nyawa Satyawan, sesosok kecil seukuran ibu jari, lalu berjalan ke arah selatan. Savitri bangkit dan mengikutinya.
“Pulanglah, Savitri. Uruslah upacara kematiannya. Sampai di sini saja engkau boleh berjalan.”
Savitri terus berjalan di belakangnya, dan sambil berjalan ia berbicara tentang dharma, tentang persahabatan, dan tentang orang-orang bijak. Kata-katanya begitu indah sehingga Yama merasa senang.
“Mintalah satu anugerah, kecuali nyawa Satyawan.”
Savitri meminta agar penglihatan mertuanya dikembalikan. Yama mengabulkannya dan menyuruhnya pulang. Savitri tetap berjalan dan terus berbicara. Yama memberi anugerah kedua, dan ia meminta kerajaan mertuanya kembali. Lalu anugerah ketiga, dan ia meminta seratus putra bagi ayahnya, yang tak punya anak laki-laki.
Ia masih juga berjalan di belakang Yama, dan kata-katanya makin bijak. Yama memberi anugerah keempat.
“Berilah aku seratus putra, yang lahir dari Satyawan dan aku,” kata Savitri.
“Terkabul,” kata Yama. Ia melangkah lagi, lalu kata-kata itu mengejarnya. Savitri berdiri dan berkata lembut, “Anugerah Tuan tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana mungkin aku memiliki putra dari Satyawan, jika Satyawan tak hidup? Kembalikanlah dia.”
Dewa kematian tersenyum. Ia melepaskan jeratnya, memuji kesetiaan Savitri, dan memberikan empat ratus tahun usia kepada mereka berdua.
Savitri kembali ke tempat tubuh suaminya berbaring. Satyawan membuka mata seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang. Malam sudah turun ketika mereka pulang ke pondok, dan di sana Dyumatsena sudah bisa melihat lagi.
💖 Pesan Moral
- Keteguhan bukan berarti keras kepala. Savitri tak pernah melawan Yama. Ia mengikutinya, berbicara dengan baik, dan menunggu.
- Kecerdasan dan kasih bisa berjalan bersama. Dengan satu permintaan yang dipikirkan matang-matang, ia membalikkan keadaan.
- Ingatlah orang lain, bahkan saat kita berduka. Anugerah pertamanya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mertua dan ayahnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Mahabharata, Wana Parwa (Pativrata-mahatmya Parwa).