Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Saudagar dari Seekor Tikus Mati

3 menit baca

Kapal pada relief Borobudur mengingatkan pada kapal dagang yang mengubah nasib pemuda dalam kisah ini. Gambar: Andreas Sihono · CC BY-SA 3.0 · sumber

Bendahara kerajaan Benares yang dijuluki Si Kecil sedang berjalan ke istana ketika ia melihat bangkai tikus di jalan. Sambil lalu ia berkata kepada pengiringnya bahwa anak muda yang cerdik bisa memulai usaha dari bangkai itu.

Seorang pemuda miskin kebetulan mendengarnya. Ia tahu siapa yang berbicara, dan ia percaya. Maka ia memungut tikus itu.

Belum jauh berjalan, seorang pemilik kedai memanggilnya karena butuh makanan untuk kucing. Tikus itu berpindah tangan seharga satu keping kecil. Dengan uang itu pemuda tersebut membeli gula tebu dan seguci air. Ia menunggu para pemetik bunga yang pulang kelelahan dari hutan, lalu memberi mereka sepotong gula dan seteguk air. Mereka membalasnya dengan seikat bunga. Bunga itu ia jual, uangnya ia belikan gula lagi, dan esoknya hal yang sama terulang, lebih banyak.

Suatu malam angin kencang merobohkan dahan-dahan di taman raja. Tukang kebun bingung cara membersihkannya. Si pemuda menawarkan diri membereskan semuanya asal kayunya untuknya. Ia lalu menemui anak-anak yang sedang bermain, membagi gula, dan dalam sekejap taman itu bersih. Tumpukan kayu itu ia jual kepada tukang periuk istana seharga enam belas keping, ditambah beberapa mangkuk.

Modalnya kini dua puluh empat keping. Ia tidak menghamburkannya. Ia memasang gentong air di dekat kota untuk lima ratus pemotong rumput. Orang-orang itu berterima kasih dan bertanya, adakah yang bisa mereka lakukan untuknya?

“Nanti, kalau aku butuh, aku akan bilang,” jawabnya.

Ia juga berteman dengan seorang pedagang darat dan seorang pedagang laut. Dari pedagang darat ia mendengar kabar bahwa besok seorang penjual kuda akan datang ke kota dengan lima ratus kuda. Ia segera menemui para pemotong rumput.

“Beri aku seikat rumput dari masing-masing kalian, dan jangan jual rumput kalian sebelum aku menjual punyaku.”

Penjual kuda tak menemukan pakan di mana pun kecuali milik si pemuda. Lima ratus ikat rumput itu terjual seharga seribu keping.

Beberapa hari kemudian pedagang laut mengabarkan bahwa sebuah kapal besar baru berlabuh. Kali ini ia menyewa kereta bagus, datang ke pelabuhan dengan gaya orang terpandang, dan membeli kapal itu secara kredit dengan jaminan cincin stempelnya. Di dekat situ ia mendirikan tenda dan berpesan kepada pelayannya agar setiap tamu diantar melalui tiga lapis penerima.

Sekitar seratus saudagar bergegas datang untuk membeli muatan itu, dan mereka diberi tahu bahwa seorang saudagar besar sudah membayar uang muka. Mereka pun harus berurusan dengannya. Masing-masing membayar seribu keping untuk mendapat bagian, dan seribu keping lagi supaya ia melepas haknya. Ia pulang ke Benares membawa dua ratus ribu keping.

Semua itu terjadi dalam empat bulan sejak ia memungut seekor tikus mati. Ia tidak lupa asal mula keberuntungannya. Ia datang menghadap Bendahara Si Kecil dengan membawa seratus ribu keping sebagai ucapan terima kasih, dan menceritakan seluruh perjalanannya. Sang Bendahara terpana mendengarnya, lalu menikahkannya dengan putrinya. Ketika Bendahara itu wafat, pemuda tersebut menggantikan kedudukannya.

💖 Pesan Moral

  • Modal kecil tetap modal. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan dengan keping pertama.
  • Kebaikan kecil membuka pintu. Seteguk air bagi pekerja yang haus kelak kembali sebagai bantuan yang tidak disangka.
  • Dengarkan dan cepat bertindak. Banyak orang mendengar kata-kata Bendahara dan berita kapal itu, tetapi hanya satu yang berbuat sesuatu.
  • Ingat siapa yang memberi jalan. Kalimat sambil lalu itu ia hargai dengan seratus ribu keping.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah masa lampau dalam Cullaka-setthi Jataka (Jataka no. 4), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.