Burung Berkepala Dua
Gandaberunda, burung berkepala dua, pada relief batu Kuil Rameshwara di Keladi, Karnataka. Gambar: Tidak diketahui · CC BY 2.5 · sumber
Di tepi sebuah danau hidup burung-burung bharunda, makhluk yang tak ada duanya di dunia. Masing-masing memiliki satu perut, tetapi dua leher dan dua kepala. Dua kepala itu melihat ke arah yang berbeda, berpikir sendiri-sendiri, dan mengecap rasa masing-masing. Namun apa pun yang ditelan oleh salah satu kepala akan masuk ke perut yang sama.
Selama bertahun-tahun, dua kepala pada seekor burung bharunda hidup rukun. Mereka bergantian mematuk makanan dan bergantian berjaga. Kalau satu mengantuk, yang lain mengawasi langit.
Suatu hari, ketika burung itu berjalan santai di tepi danau, kepala pertama menemukan sesuatu yang luar biasa. Di antara rerumputan ada setetes makanan manis, semanis amerta, minuman para dewa. Kepala pertama mencicipinya dan matanya berbinar.
“Manis sekali!” serunya.
Kepala kedua menoleh dengan penuh harap. “Apa itu? Berilah aku separuh, biar aku juga bisa merasakannya.”
Kepala pertama menjauhkan lehernya. “Untuk apa? Perut kita kan satu. Kalau aku yang menelan, kau juga ikut kenyang. Aku yang menemukannya, jadi aku yang menikmatinya.”
Lalu ia menghabiskan makanan itu seorang diri.
Benar bahwa perut mereka satu. Namun rasa manis itu hanya singgah di satu lidah. Kepala kedua terdiam, dan diam itu pelan-pelan berubah menjadi sakit hati. Sekian lama ia ikut menjaga tubuh yang sama, ikut mencari makan, dan ikut menghadapi bahaya, dan semua itu dibalas dengan satu kata: tidak.
Beberapa waktu kemudian, kepala kedua menemukan racun. Ia menatapnya lama.
“Jangan,” kata kepala pertama ketika melihat apa yang akan dilakukan saudaranya. “Itu racun! Kalau kau menelannya, kita berdua celaka. Perut kita satu!”
“Kau sudah mengatakannya sendiri,” jawab kepala kedua dengan pahit. “Perut kita satu.”
Dalam amarah, ia menelan racun itu. Hanya perlu sebentar. Racun itu masuk ke perut yang sama, yang tidak peduli kepala mana yang berhak atas apa. Burung bharunda itu rebah di tepi danau, dan kedua kepalanya mati bersama.
Dalam Panchatantra, kisah ini dituturkan oleh raja burung merpati kepada kawanannya yang terjerat jaring pemburu. Merpati-merpati itu panik dan ingin menyelamatkan diri sendiri-sendiri. Sang raja menceritakan nasib burung bharunda, lalu mengajak mereka terbang serentak. Dengan satu gerakan, kawanan itu mengangkat jaring dan membawanya naik ke udara.
💖 Pesan Moral
- Dalam keluarga, tim, atau bangsa, perutnya satu. Kerugian satu pihak pada akhirnya akan ditanggung bersama.
- Keserakahan kecil bisa melahirkan dendam besar. Permintaan kepala kedua hanya separuh, dan menolaknya tidak membuat si kepala pertama lebih kenyang.
- Dendam adalah racun yang kita telan sendiri. Kepala kedua ingin menghukum saudaranya, dan ia ikut mati bersamanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Burung-Burung Bharunda” dalam Panchatantra, Buku II (Memperoleh Sahabat). Versi aslinya sangat singkat; percakapan kedua kepala ditambahkan dalam penceritaan ulang ini.