Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Juan Pusong Sang Peramal

3 menit baca

Bibingka, kue yang ditebak Juan Pusong dari dalam tempayan. Gambar: Obsidian Soul · CC0 · sumber

Juan Pusong adalah anak Bisaya yang punya satu kebiasaan tetap: setiap pagi ia pamit ke sekolah, dan setiap pagi ia tidak sampai ke sana. Ia menghabiskan jam pelajaran di alun-alun bersama anak-anak lain. Ibunya tidak tahu. Setiap hari ia menyiapkan penganan untuk anaknya yang dikira rajin belajar.

Berbohong kepada ibunya rupanya belum cukup seru bagi Juan. Suatu hari ia berkata dengan wajah sungguh-sungguh:

“Ibu, di sekolah saya sudah belajar menjadi peramal. Saya bisa mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Nanti sepulang sekolah, saya akan menebak apa yang Ibu siapkan untuk saya.”

Ibunya gembira sekali. Ia berniat membuat sesuatu yang baru supaya tak mudah ditebak.

Juan berangkat, berjalan sampai tikungan, lalu kembali diam-diam dan memanjat pohon di dekat dapur. Dari balik daun ia mengamati jendela. Ibunya memanggang bibingka, kue dari beras dan ubi, lalu menyembunyikannya di dalam tempayan sambil bergumam bahwa anaknya tidak mungkin tahu.

Ketika waktu sekolah usai, Juan turun dari pohon, mengambil buku, dan berjalan pulang dengan langkah terpelajar. Ia berkata bahwa ramalan yang baru dipelajarinya menunjukkan ada bibingka di dalam tempayan.

Ibunya terpaku. Beberapa saat kemudian ia sudah berlari keluar rumah, dan sebelum matahari terbenam, seluruh kampung tahu bahwa anaknya seorang peramal. Orang-orang datang mengujinya. Juan selalu berhasil, berkat kerja keras yang luar biasa dalam hal mengintip.

Suatu hari sebuah kapal berlabuh di pelabuhan. Nakhodanya datang dari pulau yang jauh dan membawa muatan jeruk. Ia mendengar tentang sang peramal dan menantangnya: tebak berapa biji dalam jeruk di kapalnya, dan ia akan membayar mahal.

Juan meminta waktu satu hari, dengan alasan ramalan besar tidak bisa terburu-buru. Malam itu ia berenang ke kapal dan bersembunyi di air di bawah buritan, sambil menguping para awak. Keberuntungan berada di pihaknya. Mereka sedang membicarakan jeruk itu, dan sang nakhoda berkata dengan bangga bahwa jeruk jenis ini berbeda dari yang lain: setiap buah hanya berbiji satu.

Esoknya banyak orang berkumpul. Juan datang membawa bukunya. Nakhoda menyodorkan sebutir jeruk. Juan menciumnya pelan-pelan, membuka buku, membaca dengan dahi berkerut, lalu mengumumkan: “Jeruk ini berbiji satu.”

Jeruk dibelah, dan hanya ada satu biji. Juan dibayar penuh dan menjadi kaya.

Kariernya kemudian berakhir dengan cara yang sangat sederhana. Ia mengikat sapi-sapi ayahnya di hutan, lalu menunggu ayahnya mencari. Setelah pura-pura membuka buku kecilnya, ia memberi tahu letak sapi-sapi itu. Ayahnya menemukan mereka dan senang. Sayangnya, tidak lama kemudian terungkap satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun untuk diperiksa: Juan Pusong ternyata tidak bisa membaca, bahkan namanya sendiri. Ayahnya pun menghajar sang peramal besar, sesuatu yang tidak ia ramalkan dalam buku mana pun.

💖 Pesan Moral

  • Kepercayaan orang yang menyayangi kita mudah disalahgunakan. Yang paling mudah ditipu Juan adalah ibunya sendiri.
  • Periksa dasarnya, bukan hanya hasilnya. Satu kampung kagum pada ramalan, dan tak ada yang bertanya apakah ia bisa membaca.
  • Catatan untuk para penipu: belajarlah membaca sebelum berpura-pura membaca.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Bisaya, Filipina, tentang Juan Pusong, sebagaimana dicatat dalam Philippine Folk Tales susunan Mabel Cook Cole (1916).