Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Niulang dan Zhinu

3 menit baca

Niulang dan Zhinu, lukisan pada Koridor Panjang di Istana Musim Panas, Beijing. Gambar: shizhao ( talk )拍摄,画者不明 · Public domain · sumber

Niulang, si penggembala sapi, tidak punya apa-apa selain seekor sapi tua. Orang tuanya sudah meninggal, dan kakak serta iparnya mengusirnya dari rumah dengan hanya memberinya hewan itu dan sepetak tanah kering. Ia tidak mengeluh. Sapi tua itu ia rawat seperti kawan, dan setiap malam ia bercerita kepadanya.

Ia tidak tahu bahwa sapi itu sebenarnya dewa yang pernah dihukum turun ke bumi, sampai suatu hari sapi itu membuka mulut dan berbicara. Katanya, para putri langit akan turun mandi di telaga di dekat situ. Salah satunya, Zhinu, Sang Penenun, adalah cucu Ratu Ibu Langit, yang setiap hari menenun awan berwarna-warni di langit senja.

Niulang pergi ke telaga itu dan melihat para putri bermain air. Ia mengambil pakaian Zhinu dan menunggu. Saat kawan-kawannya terbang pulang, Zhinu tertinggal. Niulang mengembalikan pakaiannya dan berbicara kepadanya dengan jujur tentang hidupnya yang sepi. Zhinu, yang sudah lama bosan dengan kesunyian langit dan pekerjaan tanpa henti, memilih tinggal.

Mereka menikah. Niulang membajak sawah, Zhinu menenun kain yang dijualnya di pasar, dan mereka mendapat dua anak, laki-laki dan perempuan. Bertahun-tahun rumah kecil itu penuh tawa.

Sebelum mati, sapi tua itu berpesan agar kulitnya disimpan, sebab suatu hari akan berguna. Niulang menurut sambil menangis.

Di langit, Ratu Ibu akhirnya mengetahui hilangnya sang penenun. Awan senja sudah lama tak seindah dulu. Ia mengirim prajurit langit. Suatu hari ketika Niulang di sawah, langit menggelap dan angin kencang datang. Ia berlari pulang dan mendapati anak-anaknya menangis memanggil ibu mereka yang sudah dibawa terbang.

Niulang mengenakan kulit sapi itu. Ia meletakkan kedua anaknya dalam dua keranjang di ujung pikulan, dan tubuhnya terangkat ke angkasa. Ia terbang mengejar, makin lama makin dekat, sampai bisa melihat Zhinu mengulurkan tangan.

Ratu Ibu mencabut tusuk konde emasnya dan menggoreskannya di langit. Sebuah sungai bercahaya yang amat lebar membentang di antara mereka. Itulah Sungai Perak, yang kita sebut Bima Sakti.

Niulang berdiri di satu tepi dengan kedua anaknya, Zhinu di tepi lain. Tangis mereka begitu pilu hingga kawanan murai ikut bersedih. Ratu Ibu akhirnya sedikit melunak. Setahun sekali, pada malam ketujuh bulan ketujuh, mereka boleh bertemu. Malam itu, jutaan burung murai terbang ke langit dan membentuk jembatan di atas Sungai Perak.

Malam itu kini dirayakan sebagai Qixi. Kalau langit musim panas cerah, carilah Vega dan Altair, dua bintang terang yang dipisahkan pita Bima Sakti. Di Tiongkok, orang menyebutnya Zhinu dan Niulang. Di sisi Altair ada dua bintang kecil, dan orang bilang itulah anak-anak mereka.

💖 Pesan Moral

  • Merawat dengan tulus akan berbalas. Sapi tua itu yang kelak membawa Niulang sampai ke langit.
  • Kebahagiaan sederhana bisa lebih berharga daripada istana. Zhinu meninggalkan langit demi rumah kecil dan keluarga.
  • Jarak tidak selalu mengakhiri ikatan. Setahun sekali pun cukup, jika yang ditunggu memang layak ditunggu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Tiongkok tentang Niulang dan Zhinu, kisah di balik perayaan Qixi yang berakar pada puisi-puisi kuno tentang bintang Altair dan Vega.