Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Rubah dan Anggur Asam

2 menit baca

Rubah menatap anggur yang tak terjangkau. Cat air Gustave Moreau untuk Fabel La Fontaine. Gambar: Gustave Moreau · Public domain · sumber

Pada suatu siang di akhir musim panas, seekor rubah berjalan menyusuri tepi kebun anggur. Sejak pagi ia belum makan apa-apa. Perutnya kosong, dan tenggorokannya kering karena panas.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di atas kepalanya, merambat di sepanjang para-para kayu, tergantung untaian anggur yang ranum. Butir-butirnya ungu tua, besar, dan berkilau seperti permata, seakan-akan siap meledak karena penuh sari manis.

“Wah, inilah yang kubutuhkan,” gumam rubah sambil menjilat bibirnya. “Segar, manis, dan bisa mengobati lapar sekaligus haus.”

Ia mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lalu melompat setinggi-tingginya. Moncongnya hampir menyentuh buah itu, tetapi tidak sampai. Ia jatuh kembali ke tanah.

Tidak mau menyerah, ia mencoba lagi. Kali ini ia mundur lebih jauh dan berlari lebih kencang sebelum melompat. Hasilnya sama. Anggur itu tetap tergantung di tempatnya, bergoyang pelan tertiup angin, seolah-olah mengejeknya.

Rubah mencoba lagi, dan lagi, dan lagi. Ia melompat dari kiri, dari kanan, sambil berputar, bahkan mencoba memanjat tiang para-para. Namun kakinya selalu tergelincir. Setiap kali, ia jatuh dengan bunyi gedebuk ke tanah berdebu.

Akhirnya, dengan napas terengah-engah dan bulu kotor oleh debu, ia duduk dan menatap anggur itu lama sekali.

Lalu ia berdiri, mengibaskan ekornya, dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

“Huh,” katanya keras-keras, supaya burung-burung yang menonton di dahan ikut mendengar. “Untuk apa aku bersusah payah? Lihat saja, anggur itu pasti masih asam. Belum matang sama sekali. Hanya hewan bodoh yang mau makan anggur asam seperti itu.”

Dan pergilah ia dengan langkah angkuh, seolah-olah dialah yang menolak anggur itu, bukan anggur itu yang tak terjangkau olehnya.

Burung-burung di dahan saling pandang, lalu tertawa kecil. Mereka tahu anggur itu manis sekali. Mereka baru saja memakannya pagi tadi.

Sejak saat itu, orang menyebut sikap seperti si rubah dengan istilah “anggur asam”: kebiasaan meremehkan sesuatu yang gagal kita raih, supaya kita tidak perlu mengakui kekalahan.

💖 Pesan Moral

  • Mengakui kegagalan dengan jujur lebih baik daripada menjelekkan apa yang tidak bisa kita capai.
  • Waspadai alasan-alasan yang kita buat untuk menghibur diri. Kadang alasan itu justru menghalangi kita belajar dan mencoba cara lain.
  • Tidak apa-apa gagal. Yang perlu dihindari adalah membohongi diri sendiri tentang kegagalan itu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Rubah dan Anggur”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Renard et les Raisins”. Dari fabel inilah lahir ungkapan “sour grapes” (anggur asam).