Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ajisaka dan Lahirnya Aksara Jawa

3 menit baca

Halaman naskah Jawa bertulisan aksara hanacaraka, warisan yang dikaitkan dengan kisah Ajisaka. Gambar: copied by Wongsadirana of Tanggung · CC0 · sumber

Anak-anak Jawa yang belajar menulis aksara daerah akan mulai dari deretan bunyi ini: ha, na, ca, ra, ka. Banyak yang menghafalnya tanpa tahu bahwa, menurut cerita tua, dua puluh aksara itu menyimpan kisah tentang kesetiaan dan kesalahpahaman yang berakhir pilu.

Ajisaka adalah seorang pemuda yang pandai dan sakti dari Pulau Majeti. Ia punya dua abdi yang amat setia, Dora dan Sembada. Suatu hari ia mendengar kabar tentang Medang Kamulan, negeri yang dipimpin raja raksasa bernama Dewata Cengkar. Raja itu gemar memakan daging manusia, dan rakyatnya hidup dalam ketakutan.

Ajisaka memutuskan berangkat. Ia mengajak Dora dan meninggalkan Sembada di Pulau Majeti untuk menjaga keris pusakanya.

“Jangan serahkan keris ini kepada siapa pun, kecuali aku sendiri yang datang mengambilnya,” pesannya. Sembada mengangguk dan berjanji.

Sesampainya di Medang Kamulan, Ajisaka menghadap Dewata Cengkar dan menawarkan dirinya untuk disantap. Raja raksasa itu heran. Ajisaka hanya meminta satu imbalan: sebidang tanah seluas sorban yang ia kenakan.

Permintaan itu terdengar menggelikan, dan sang raja mengizinkannya sambil tertawa. Ajisaka membuka sorbannya dan membentangkannya di tanah. Kain itu mulai memanjang, terus melebar, melewati halaman istana, sawah, dan bukit. Dewata Cengkar terpaksa mundur setapak demi setapak sampai terdesak ke tepi laut selatan. Akhirnya ia tercebur, dan menurut cerita ia berubah menjadi buaya putih.

Rakyat bersorak, dan Ajisaka diangkat menjadi raja. Ketika negeri itu sudah tenang, ia teringat pada kerisnya. Ia menyuruh Dora pergi ke Pulau Majeti untuk mengambilnya.

Dora berangkat dan bertemu Sembada, sahabat lamanya. Mereka berpelukan. Lalu Dora menyampaikan tugasnya.

Sembada menggeleng. “Tuan kita berpesan, hanya beliau sendiri yang boleh mengambilnya.”

“Tetapi beliau sendiri yang mengutusku,” sahut Dora.

Keduanya sama-sama benar, dan sama-sama setia. Yang satu tak mau melanggar pesan, yang lain tak mau gagal menjalankan perintah. Perdebatan mereka memanas menjadi pertarungan. Keduanya sama saktinya. Tak ada yang mau mengalah sampai keduanya roboh dan tewas.

Berita itu sampai kepada Ajisaka, dan ia tertegun. Ia baru sadar bahwa kematian kedua abdinya berawal dari dua perintah yang ia sendiri lupakan. Ia menangis untuk mereka dan menuliskan kisah itu dalam dua puluh aksara, disusun menjadi empat baris:

Hana caraka, ada dua utusan.
Data sawala, keduanya berselisih.
Padha jayanya, sama-sama sakti.
Maga bathanga, lalu keduanya menjadi mayat.

Sampai sekarang, urutan aksara itu terus diajarkan.

💖 Pesan Moral

  • Perintah yang tidak jelas bisa memakan korban. Pemimpin wajib memastikan pesannya tidak bertentangan dengan pesan sebelumnya.
  • Kesetiaan butuh kebijaksanaan. Dora dan Sembada setia, tetapi lupa berhenti dan mencari jalan tengah.
  • Kecerdasan mengalahkan kekuatan yang kasar. Selembar sorban cukup untuk menyingkirkan raja raksasa.
  • Tulislah pelajaran dari kesalahan, supaya orang lain tidak mengulanginya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Jawa tentang Ajisaka; salah satu versi. Para ahli melihat aksara Jawa berkembang dari aksara Kawi dan Pallawa, dan kisah ini adalah cerita rakyat tentang susunan hurufnya.