Legenda Pulau Kemaro
Sungai Musi di Palembang, perairan tempat kapal Tan Bun An berlayar dalam legenda. Gambar: Oka1302 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di tengah Sungai Musi, sekitar enam kilometer dari Jembatan Ampera, ada sebuah pulau kecil yang tidak pernah tenggelam meski air sungai sedang pasang besar. Pagoda sembilan tingkat berdiri di atasnya. Setiap Cap Go Meh, perahu-perahu berdatangan ke sana. Orang Palembang menyebutnya Pulau Kemaro, dan kisahnya dimulai dari sebuah kapal dagang.
Dahulu datanglah seorang putra bangsawan dari negeri Tiongkok bernama Tan Bun An. Ia berlayar ke Palembang untuk berdagang. Sebagaimana seharusnya tamu asing, ia menghadap raja untuk meminta izin. Di istana, ia berjumpa dengan putri raja, Siti Fatimah.
Pertemuan itu mengubah rencana perjalanannya. Urusan dagang selesai, tetapi ia tidak juga berlayar pulang. Sang putri pun menyimpan perasaan yang sama. Ketika akhirnya Tan Bun An menyampaikan niat untuk meminang, ia mengajak Siti Fatimah berkunjung ke tanah airnya untuk memperkenalkan diri kepada orang tuanya.
Perjalanan itu berlangsung baik. Orang tua Tan Bun An menerima calon menantunya dengan gembira. Ketika tiba waktunya kembali ke Palembang, mereka memberi hadiah: tujuh buah guci besar berisi emas, sebagai bekal bagi rumah tangga anaknya kelak. Agar selamat dari perompak di perjalanan, kabarnya emas itu ditutupi lapisan sawi asin.
Berbulan-bulan kemudian, kapal mereka memasuki muara Sungai Musi. Tinggal sedikit lagi perjalanan. Tan Bun An ingin sekali melihat hadiah itu sebelum dipersembahkan kepada calon mertuanya. Ia memerintahkan guci pertama dibuka.
Bau asam menyeruak. Isinya sawi asin.
Ia membuka guci kedua. Sawi asin lagi. Wajahnya memerah. Apakah keluarganya sendiri mempermalukannya di hadapan raja Palembang? Dengan amarah yang tidak terkendali, ia melemparkan guci demi guci ke dalam sungai. Siti Fatimah berusaha menenangkannya, tetapi ia tidak mendengar.
Guci terakhir terlepas dari tangannya, jatuh di atas geladak, dan pecah. Di antara sayuran asin yang berserakan, sesuatu berkilau. Emas.
Tan Bun An terpaku. Lalu ia mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Tanpa berpikir lagi ia berlari ke pinggir kapal dan melompat ke dalam air yang keruh, berusaha meraih kembali apa yang sudah ia buang. Seorang pengawalnya menyusul terjun untuk menolong.
Permukaan sungai bergelombang, lalu tenang. Siti Fatimah berdiri di pinggir kapal, memandangi air, menunggu. Satu menit, lalu satu menit lagi. Mereka tidak muncul.
Sebelum melangkah ke tepi, kata orang, ia meninggalkan pesan: bila suatu saat ada gundukan tanah muncul di tempat itu, ketahuilah bahwa itu makamnya. Lalu ia pun terjun menyusul.
Tidak lama kemudian muncullah daratan kecil di tengah Sungai Musi. Orang-orang membangun makam dan kelenteng di sana untuk mengenang ketiganya. Sampai sekarang makam Siti Fatimah masih dikunjungi, dan pulau itu tetap kering saat air tinggi, sesuai namanya: kemaro, yang berarti kemarau.
💖 Pesan Moral
- Jangan mengambil keputusan besar saat sedang marah. Sekejap amarah menghapus semua yang telah diperjuangkan.
- Tunggu sebelum menilai. Tan Bun An menghakimi isi guci hanya dari lapisan paling atasnya.
- Rasa malu bisa lebih berbahaya daripada kehilangan. Ia lebih takut dipermalukan ketimbang sempat bertanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Palembang, Sumatra Selatan, seperti yang dituturkan di sekitar Klenteng Hok Tjing Rio, Pulau Kemaro. Rinciannya berbeda antarversi.