Sirih dan Pinang, Kisah Dua Saudara
Rangkaian sirih dan pinang untuk upacara pernikahan Vietnam. Gambar: Khương Việt Hà · Public domain · sumber
Dua bersaudara kembar, Cao Tân dan Cao Lang, ditinggal mati orang tua mereka ketika masih muda. Wajah mereka begitu mirip, sampai orang sering keliru. Mereka berguru kepada seorang tabib bermarga Lưu, dan tak pernah berpisah, baik saat bekerja maupun saat tidur.
Putri sang tabib jatuh hati kepada salah seorang dari mereka, tetapi ia tak tahu siapa yang lebih tua. Adat menghendaki yang sulung menikah lebih dulu. Maka ia menyuruh pelayan menghidangkan semangkuk bubur dengan hanya sepasang sumpit. Dari balik tirai ia melihat si adik mengambil sumpit itu dan menyerahkannya kepada kakaknya, lalu menunggu dengan sabar. Kini ia tahu.
Tân menikah dengan gadis itu. Mereka bahagia, dan di situlah masalahnya bermula. Tân masih menyayangi adiknya, tetapi kini ada orang lain yang harus ia perhatikan. Mereka tidak lagi selalu makan bersama, dan tidak lagi bercakap sampai larut. Lang tak pernah mengeluh. Ia hanya merasa semakin lama semakin tak punya tempat di rumah itu.
Suatu hari, tanpa berkata apa-apa, Lang pergi. Ia berjalan menyusuri hutan sampai tiba di tepi sungai yang tak bisa diseberangi. Ia duduk di sana menangis, tak tahu harus ke mana, dan akhirnya meninggal di tempat itu. Tubuhnya berubah menjadi sebatang pohon lurus dan ramping, yang berdiri sendirian di tepi air: pohon pinang.
Tân gelisah ketika adiknya tak kunjung pulang. Rasa bersalah menusuknya. Ia berangkat mencari, mengikuti jalan yang sama, dan tiba di tepi sungai yang sama. Di sana ia hanya mendapati sebatang pohon yang asing. Ia bersandar pada batang itu dan menangis sampai tubuhnya tak kuat lagi. Ia berubah menjadi batu kapur putih yang menempel di kaki pohon.
Sang istri menunggu di rumah, dan akhirnya ia pun menyusul. Ia tiba di tepi sungai dan mendapati sebatang pohon dan sebongkah batu. Entah bagaimana ia tahu. Ia memeluk batu itu sampai napasnya habis, lalu berubah menjadi tanaman sirih yang merambat, membelit batu dan pohon sekaligus.
Bertahun-tahun kemudian Raja Hùng lewat di tempat itu dan mendengar kisah tersebut dari penduduk. Ia memetik selembar sirih, sebiji pinang, dan sedikit kapur, lalu mengunyah ketiganya bersama. Rasanya pedas dan hangat, dan ludahnya berubah merah seperti darah. Sang raja termangu, lalu memerintahkan agar tanaman itu disebarkan ke seluruh negeri.
Sampai sekarang, di Vietnam, sirih dan pinang adalah bagian dari upacara lamaran. Orang di sana bahkan menyebut urusan pernikahan sebagai “urusan sirih pinang”.
💖 Pesan Moral
- Cinta baru tak boleh menghapus kasih yang lama. Tân tidak pernah bermaksud menyingkirkan adiknya, tetapi kelalaian kecil bisa terasa seperti penolakan.
- Yang diam bukan berarti baik-baik saja. Lang tak pernah mengeluh, dan justru itulah yang membuatnya tak terlihat.
- Ucapkan sebelum terlambat. Satu percakapan jujur bisa mencegah penyesalan yang panjang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Vietnam Sự tích trầu cau, yang tercatat dalam Lĩnh Nam chích quái; rincian kisahnya berbeda-beda antarversi.