Biwar Sang Penakluk Naga
Sungai berbatu dan pegunungan di Papua Tengah, gambaran alam tempat kisah Biwar dituturkan. Gambar: Reinoldh · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di pesisir selatan Papua, tempat sungai-sungai besar berkelok menuju laut, orang Mimika mengenal cerita tentang seorang anak yang lahir di tengah duka.
Suatu hari sekelompok warga pergi berperahu mencari ikan dan sagu. Di tengah perjalanan, air sungai tiba-tiba bergolak. Seekor naga raksasa muncul dari dalam sungai dan menghantam perahu mereka. Para lelaki, termasuk ayah dan paman seorang bayi yang belum lahir, tewas di air itu. Seorang perempuan yang sedang mengandung selamat dan lari jauh ke dalam hutan.
Di sanalah ia melahirkan seorang putra, sendirian, dan menamainya Biwar. Ia tak pernah kembali ke kampung lamanya. Ia membesarkan anak itu di hutan, mengajarinya mengenali tumbuhan, mengasah tombak, dan memanjat pohon. Biwar tumbuh kuat dan cekatan. Lama sekali ia tak tahu mengapa ibunya selalu menjauhi sungai besar itu.
Suatu hari, ketika ia sudah cukup dewasa, ia bertanya, “Ibu, di mana Ayah? Mengapa kita tinggal jauh dari orang lain?”
Ibunya menatapnya lama. Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan datang, dan ia sudah lama takut menjawabnya. Akhirnya ia menceritakan semuanya: perahu yang pecah, naga di sungai, dan malam-malam pelarian di hutan.
Biwar terdiam, lalu berdiri. “Kalau begitu, naga itu harus dihentikan. Selama ia ada, tak seorang pun bisa hidup di sungai itu.”
Ibunya menangis dan melarangnya. Anak itu satu-satunya yang ia miliki. Namun ia juga tahu sifat putranya. Ketika larangannya tak mengubah apa pun, ia melepasnya dengan doa dan membekalinya dengan semua yang bisa ia berikan.
Biwar menyusuri tepi sungai sampai menemukan gua gelap, tempat yang diduga menjadi sarang naga. Ia tidak menyerbu masuk. Ia sudah belajar dari kehidupan di hutan bahwa pemburu yang baik membuat buruannya datang kepadanya. Ia memilih tempat, menyiapkan tombak, lalu memukul tifa, gendang kayu itu, keras-keras.
Bunyinya bergema di dinding gua. Tak lama kemudian air bergolak, dan naga itu keluar dengan tubuhnya yang panjang, marah karena diganggu. Biwar tidak lari. Ia menunggu sampai makhluk itu cukup dekat, lalu dengan seluruh tenaganya ia menghunjamkan tombak. Pertarungan itu berlangsung sengit, tetapi akhirnya naga itu roboh.
Sungai itu kembali tenang. Biwar pulang kepada ibunya, yang memeluknya tanpa bisa berkata apa-apa. Kabar kemenangan itu tersebar, dan orang-orang kembali ke kampung di tepi sungai. Mereka bersukacita, membangun rumah, dan kembali mencari makan di air yang kini aman. Nama Biwar pun terus diceritakan kepada anak-anak mereka.
💖 Pesan Moral
- Ketabahan seorang ibu menjadi awal segala kemenangan. Tanpa perempuan yang bertahan sendirian di hutan, tak akan ada Biwar.
- Keberanian perlu perhitungan. Biwar menang karena ia sabar, memilih tempat, dan memancing lawannya keluar.
- Kebenaran harus diceritakan pada waktunya. Anak yang tumbuh kuat berhak tahu dari mana ia berasal.
- Keberhasilan terbesar adalah yang membawa orang lain pulang. Kemenangan Biwar mengembalikan sebuah kampung.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Mimika, Papua; salah satu versi. Rincian kisahnya berbeda-beda dalam berbagai penuturan.