Damon dan Pythias
Damon dan Pythias dalam cetakan litografi Amerika abad ke-19. Gambar: Popular Graphic Arts · Public domain · sumber
Dionysius, tiran kota Syracuse di Sisilia, dikenal mudah curiga. Di kotanya tinggal dua sahabat, Damon dan Pythias, keduanya pengikut ajaran Pythagoras. Bagi kaum itu, persahabatan sejati adalah ikatan yang layak dijaga dengan nyawa. Banyak orang di istana menganggap ajaran itu omong kosong.
Suatu hari Pythias dituduh bersekongkol melawan sang tiran. Hukumannya mati. Di hadapan Dionysius, Pythias tidak meminta ampun. Ia hanya meminta waktu beberapa hari untuk pulang dan membereskan urusan keluarganya. Sesudah itu ia akan kembali menjalani hukuman.
Dionysius tertawa. Orang gila mana yang mau pulang untuk mati? Sekali lolos dari Syracuse, siapa bisa menangkapnya lagi?
Lalu Damon maju. Ia menawarkan diri menjadi jaminan. Biarlah ia yang ditahan selama Pythias pergi. Bila Pythias tidak kembali pada hari yang ditentukan, Damon sendiri yang akan dihukum mati.
Ruangan itu terdiam. Sang tiran menatap Damon lama, mencari-cari tipu daya, dan tidak menemukannya. Ia menyetujui syarat itu, barangkali karena ingin membuktikan bahwa manusia pada akhirnya hanya memikirkan keselamatan sendiri. Pythias berangkat. Damon masuk ke penjara.
Hari demi hari berlalu. Kabar tentang taruhan aneh itu menyebar ke seluruh kota. Orang-orang mengasihani Damon dan menganggapnya tolol. Para pejabat istana mengolok-oloknya. Sang tiran sesekali menanyakan tahanannya, ingin tahu apakah keyakinannya sudah goyah. Damon tetap tenang.
Hari yang ditentukan tiba. Matahari bergerak, tetapi Pythias belum juga tampak. Menjelang saat eksekusi, Damon dibawa keluar. Orang banyak berkumpul. Dionysius hadir untuk menyaksikan bagaimana sebuah ajaran luhur berakhir di tangan algojo.
Saat itulah Pythias datang, tepat pada waktunya. Ia menerobos kerumunan dan langsung menempatkan diri di tempat sahabatnya, siap menerima hukuman yang memang ditimpakan kepadanya. Dalam beberapa penuturan, ia terlambat karena rintangan di perjalanan, dan Damon masih berharap sahabatnya selamat. Apa pun rinciannya, inti kisahnya sama: janji itu ditepati, dan masing-masing siap mati untuk yang lain.
Sang tiran yang tak pernah mempercayai siapa pun tertegun. Selama ini ia dikelilingi orang yang takut kepadanya, dan tak seorang pun rela mati baginya. Kini di depannya berdiri dua warga biasa yang memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan.
Dionysius membatalkan hukuman itu. Ia membebaskan keduanya, lalu mengajukan permintaan yang mengejutkan semua orang: ia memohon agar diterima sebagai sahabat ketiga dalam ikatan mereka.
Menurut catatan lama, permintaan itu tidak terkabul. Dua sahabat itu rupanya tahu bahwa persahabatan tidak bisa diminta oleh seorang penguasa seperti memerintahkan pajak.
💖 Pesan Moral
- Sahabat sejati tampak ketika ada harga yang harus dibayar. Damon tidak hanya berjanji, ia menaruh nyawanya sebagai jaminan.
- Janji paling berat diuji saat tidak ada yang bisa memaksa kita menepatinya. Pythias bebas pergi, tetapi ia pulang.
- Kepercayaan menular. Keteguhan dua orang biasa mampu melunakkan hati seorang tiran.
- Kekuasaan bisa membeli rasa takut, tetapi kesetiaan yang tulus tidak ada di daftar harganya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Yunani yang dicatat Aristoksenos dan dikutip antara lain oleh Cicero (De Officiis 3.45) dan Valerius Maximus. Rinciannya berbeda antarversi, dan nama Pythias juga ditulis Phintias.