Putri Naga dari Pulau Komodo
Komodo, yang oleh warga setempat disebut ora dan dalam legenda dianggap saudara manusia. Gambar: Jakub Hałun · CC BY 4.0 · sumber
Para pemandu di Pulau Komodo masih sering menyebut kadal raksasa itu dengan satu kata, ora. Bagi sebagian warga kampung di sana, nama itu terasa seperti nama seorang kerabat, dan ada ceritanya.
Dahulu kala, di pulau yang kering dan berbukit itu, tinggal seorang perempuan yang disebut Putri Naga. Ia bukan perempuan biasa. Orang-orang tahu ia punya hubungan dengan makhluk-makhluk tua di pulau itu. Seorang lelaki bernama Majo menikahinya, dan mereka hidup tenang di dekat pantai.
Tibalah waktunya Putri Naga melahirkan. Ia melahirkan sepasang anak kembar, tetapi keduanya sama sekali tidak mirip. Yang satu bayi laki-laki, yang diberi nama Si Gerong. Yang satu lagi seekor naga betina kecil, yang diberi nama Ora.
Majo terperanjat, tetapi Putri Naga mendekap keduanya dengan kasih yang sama. Namun anak itu tak bisa dibesarkan dengan cara yang sama. Si Gerong tumbuh di kampung, belajar melaut dan berburu bersama para lelaki. Ora dilepas ke hutan, tempat ia tumbuh di antara semak dan padang rumput, belajar mengintai rusa dan mencari makan sendiri.
Tahun demi tahun lewat. Si Gerong menjadi pemburu yang tangguh dan tak tahu lagi bahwa ia punya saudara. Barangkali ibunya tak pernah menceritakannya, atau barangkali ia sudah lupa.
Pada suatu hari ia berburu rusa di hutan. Panahnya kena, dan rusa itu roboh. Saat ia mendekat untuk mengambil hasil buruannya, dari balik semak muncul seekor kadal besar yang langsung menggigit rusa itu dan menyeretnya.
Si Gerong marah. Ia sudah berjalan sejak pagi dan keluarganya menunggu makanan. Ia berteriak mengusir, tetapi makhluk itu mendesis dan bertahan. Si Gerong mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, siap menghunjamkannya.
Tiba-tiba seorang perempuan muncul di antara mereka. Rambutnya berkibar, dan wajahnya tegas. Itu Putri Naga.
“Turunkan tombakmu, Gerong,” katanya. “Yang kau lawan itu saudaramu. Kalian lahir pada hari yang sama, dari ibu yang sama.”
Si Gerong terpaku. Ia menatap kadal besar itu lama sekali. Mata mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu selain binatang buas. Pelan-pelan ia menurunkan tombak. Ia meninggalkan rusa itu di tanah, lalu mundur.
Sejak hari itu, kata cerita ini, orang Komodo dan ora saling menjaga. Orang kampung berbagi buruan dan tidak mengganggu sarang mereka. Banyak warga tua menyebut hewan itu sebagai saudara, dan mereka hidup berdampingan di pulau yang sama selama turun-temurun.
Biawak komodo tentu tetap satwa liar yang berbahaya, dan siapa pun yang berkunjung ke pulau itu harus menjaga jarak. Tetapi rasa hormat warga kepada ora punya akar yang panjang, dan cerita ini ikut menjaganya.
💖 Pesan Moral
- Yang tampak asing bisa jadi masih saudara kita. Rupa yang berbeda tidak menghapus asal yang sama.
- Berhentilah sejenak sebelum mengangkat senjata. Banyak pertikaian lahir karena kita belum tahu siapa yang kita hadapi.
- Manusia dan alam bisa berbagi tempat. Warga Komodo sudah lama mempraktikkan apa yang kini disebut pelestarian.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda masyarakat Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur; salah satu versi. Nama tokoh dan rincian kisah berbeda-beda dalam berbagai penuturan.