Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tadulako Bulili

2 menit baca

Rumah adat Kaili di Sulawesi Tengah dengan patung prajurit, mengingatkan pada para tadulako dalam cerita ini. Gambar: Irlan Wira Tumonggi · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di Sulawesi Tengah, kata tadulako berarti panglima, orang yang berjalan paling depan saat bahaya datang. Di Desa Bulili, dua lelaki pernah memegang gelar itu dengan begitu baik sampai nama mereka tetap diceritakan: Bantili dan Mukeku.

Keduanya terkenal sakti, tetapi warga Bulili lebih menghargai hal lain dari mereka. Saat musim panen dan saat orang kampung tidur, Bantili dan Mukeku berjaga. Selama ada mereka, kampung itu aman. Maka warga mengangkat keduanya sebagai tadulako, penjaga keamanan desa.

Suatu ketika Raja Sigi datang berkunjung. Orang Bulili menyambutnya dengan penuh hormat. Sang raja betah di sana, dan ia menikah dengan seorang perempuan Bulili. Beberapa waktu lamanya ia tinggal di desa itu, sampai istrinya mengandung. Lalu ia pulang ke Sigi, dengan janji akan kembali.

Bulan demi bulan berlalu. Kandungan perempuan itu makin besar dan hari persalinannya makin dekat, tetapi Raja Sigi tak juga datang. Tak ada utusan, tak ada kiriman. Di kampung kecil, hal seperti itu cepat menjadi percakapan semua orang.

“Istri seorang raja melahirkan tanpa kepastian,” gerutu warga. “Apakah begini kita diperlakukan setelah menyambutnya dengan baik?”

Bantili dan Mukeku mendengar semua itu. Mereka memandangnya sebagai perkara kehormatan. Perempuan itu warga mereka, dan menjaganya termasuk tugas mereka. Keduanya memutuskan pergi ke Sigi.

Setibanya di sana, mereka tidak mengamuk dan tidak menantang raja. Mereka mendatangi lumbung padi kerajaan, sumber pangan yang amat penting. Dengan kesaktian mereka, lumbung itu diangkat dan dibawa pergi. Prajurit Sigi berusaha menghalangi, tetapi tak seorang pun berhasil menghentikan dua tadulako itu.

Lumbung itu dibawa sampai ke Bulili dan diserahkan kepada istri Raja Sigi. Bagi perempuan yang akan melahirkan, itulah jaminan hidup: ia dan anaknya tidak akan kekurangan makan. Bagi Raja Sigi, itulah teguran yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Tanggung jawab yang ia tinggalkan telah dibawa orang lain.

Warga Bulili menyambut kedua tadulako itu dengan sorak gembira. Sejak saat itu mereka makin dihormati dan namanya terus disebut sebagai Tadulako Bulili, pelindung orang yang tak punya siapa-siapa untuk membelanya.

💖 Pesan Moral

  • Kekuatan paling berharga bila dipakai membela yang lemah. Kesaktian Bantili dan Mukeku dikenang karena dipakai untuk seorang perempuan yang ditinggalkan.
  • Janji seorang pemimpin ditagih oleh rakyatnya. Kedudukan tinggi tidak membebaskan siapa pun dari tanggung jawab kepada keluarganya.
  • Teguran yang cerdas tak harus menumpahkan darah. Sebuah lumbung ternyata bisa berbicara lebih keras daripada perang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Tadulako Bulili, Sulawesi Tengah; salah satu versi.