Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Anak Gembala dan Serigala

3 menit baca

Ketika serigala sungguhan datang, tak ada lagi yang percaya. Ukiran Francis Barlow (1687). Gambar: Francis Barlow · Public domain · sumber

Di sebuah desa di kaki bukit, tinggallah seorang anak gembala. Setiap pagi ia membawa domba-domba milik warga desa ke padang rumput di lereng bukit, lalu menjaganya sampai sore.

Pekerjaan itu sebenarnya penting, karena di hutan dekat bukit tinggal serigala-serigala lapar. Namun bagi si anak, hari-harinya terasa sangat membosankan. Domba-domba hanya makan rumput, mengembik, lalu makan rumput lagi. Tidak ada teman untuk diajak bicara.

Suatu hari, ia mendapat ide nakal. Ia berdiri di atas batu, menghadap ke desa, lalu berteriak sekuat tenaga, “Serigala! Serigala! Tolong, ada serigala menyerang domba!”

Para petani di desa segera meninggalkan pekerjaan mereka. Sambil membawa cangkul, tongkat, dan sabit, mereka berlari terengah-engah mendaki bukit. Namun sesampainya di sana, tidak ada serigala. Yang ada hanya domba-domba yang tenang dan seorang anak yang tertawa terpingkal-pingkal.

“Kena kalian! Tidak ada serigala!” serunya.

Para warga kesal. “Jangan bermain-main dengan hal seperti ini, Nak,” kata seorang petani tua. Lalu mereka kembali ke desa sambil menggerutu.

Beberapa hari kemudian, rasa bosan kembali datang. Anak gembala itu teringat betapa lucunya melihat orang-orang berlarian. Maka ia berteriak lagi, “Serigala! Serigala datang!”

Sekali lagi warga desa berlari mendaki bukit. Sekali lagi mereka hanya menemukan anak itu tertawa. Kali ini mereka benar-benar marah. “Kalau kamu berbohong lagi, kami tidak akan percaya,” kata mereka.

Tak lama setelah itu, pada suatu senja, ketika matahari mulai tenggelam, si anak melihat sesuatu bergerak di balik semak-semak. Sepasang mata kuning berkilat. Seekor serigala sungguhan, besar dan lapar, perlahan merayap mendekati kawanan domba.

Anak itu pucat ketakutan. Ia berlari ke batu dan berteriak sekeras-kerasnya, “Serigala! Serigala! Kali ini sungguhan! Tolong!”

Di desa, para warga mendengar teriakannya. Namun mereka hanya saling pandang dan menggeleng. “Anak itu berbohong lagi,” kata mereka. “Kita tidak akan tertipu untuk ketiga kalinya.” Tidak seorang pun beranjak.

Anak gembala itu berteriak sampai suaranya serak, tetapi tidak ada yang datang. Ia hanya bisa menyaksikan dengan tak berdaya ketika serigala itu menyerbu kawanan dan domba-domba berlarian ke segala arah.

Malam itu ia pulang dengan wajah basah oleh air mata. Seorang tetua desa menghampirinya. “Nak,” katanya pelan, “orang yang suka berbohong tidak akan dipercaya, bahkan ketika ia sedang berkata jujur.”

💖 Pesan Moral

  • Kepercayaan itu mahal dan sulit dibangun kembali. Sekali dirusak oleh kebohongan, ia bisa hilang saat kita paling membutuhkannya.
  • Jangan bercanda dengan hal yang menyangkut keselamatan orang lain.
  • Kejujuran adalah tabungan yang menjaga kita di masa sulit.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Anak Gembala dan Serigala” (The Boy Who Cried Wolf).