Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Beethoven dan Tepuk Tangan yang Tak Terdengar

3 menit baca

Beethoven dilukis Joseph Karl Stieler, 1820, beberapa tahun sebelum Simfoni No. 9. Gambar: Joseph Karl Stieler · Public domain · sumber

Ludwig van Beethoven lahir pada tahun 1770 di kota Bonn, Jerman. Sejak kecil ia sudah menunjukkan bakat musik yang luar biasa. Ketika dewasa, ia pindah ke Wina, ibu kota musik Eropa pada masa itu, dan dengan cepat dikenal sebagai pianis dan komponis yang brilian.

Namun menjelang usia tiga puluh tahun, sesuatu yang menakutkan mulai terjadi. Telinganya berdenging, dan pendengarannya perlahan memburuk. Bagi orang biasa, itu sudah merupakan musibah. Bagi seorang musisi, itu terasa seperti hukuman yang paling kejam.

Beethoven berusaha menyembunyikan keadaannya. Ia menjauh dari pergaulan karena takut orang tahu bahwa sang komponis tidak bisa mendengar dengan baik. Ia merasa terasing dan sangat menderita.

Pada tahun 1802, saat beristirahat di desa Heiligenstadt di dekat Wina, ia menulis sebuah surat panjang kepada kedua adiknya. Surat itu kini dikenal sebagai Wasiat Heiligenstadt. Di dalamnya ia mencurahkan keputusasaannya. Ia mengaku pernah merasa hampir tidak sanggup lagi melanjutkan hidup. Tetapi ia juga menulis bahwa seninyalah yang menahannya. Ia merasa belum mungkin meninggalkan dunia sebelum menuangkan semua musik yang ia rasakan ada di dalam dirinya.

Surat itu tidak pernah dikirim. Surat itu baru ditemukan setelah ia wafat. Tetapi setelah menuliskannya, Beethoven memilih untuk terus berkarya.

Tahun-tahun berikutnya justru menjadi masa paling subur dalam hidupnya. Ia menggubah simfoni-simfoni besar, konserto, sonata, dan sebuah opera. Sementara itu, pendengarannya terus memburuk sampai akhirnya ia hampir tuli total. Orang-orang harus berkomunikasi dengannya lewat tulisan di buku-buku catatan percakapan. Ia menyusun musik dengan “mendengarnya” di dalam kepala.

Pada 7 Mei 1824, di sebuah gedung teater di Wina, Simfoni No. 9 karyanya dipentaskan untuk pertama kalinya. Simfoni ini berakhir dengan paduan suara yang menyanyikan puisi “Ode untuk Kegembiraan” karya Friedrich Schiller, yang menyerukan persaudaraan seluruh umat manusia.

Beethoven berdiri di atas panggung, di samping konduktor utama, memberi isyarat tempo kepada para pemain. Menurut kesaksian orang-orang yang hadir, ketika musik usai, ia masih membelakangi penonton dan tidak menyadari bahwa gedung itu sudah bergemuruh oleh tepuk tangan. Seorang penyanyi, Caroline Unger, lalu menghampirinya dan dengan lembut memutar tubuhnya agar ia bisa melihat penonton.

Barulah Beethoven melihat lautan manusia yang berdiri, bertepuk tangan, melambaikan topi dan sapu tangan agar ia bisa melihat sambutan yang tidak bisa ia dengar. Rincian kisah ini sedikit berbeda dalam berbagai catatan, tetapi momen itu dikenang sebagai salah satu peristiwa paling mengharukan dalam sejarah musik.

Beethoven wafat tiga tahun kemudian. Hingga hari ini, “Ode untuk Kegembiraan” dari simfoni itu masih dinyanyikan di seluruh dunia, karya agung dari seorang lelaki yang menulisnya tanpa bisa mendengarnya.

💖 Pesan Moral

  • Keterbatasan tidak selalu memadamkan karya; kadang justru melahirkan yang terbaik.
  • Di masa paling gelap, berpeganglah pada alasan untuk terus melangkah.
  • Seseorang yang dengan lembut “memutar tubuh kita” agar melihat penghargaan orang lain adalah sahabat yang berharga.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah nyata komponis Ludwig van Beethoven (1770–1827), berdasarkan Wasiat Heiligenstadt (1802) dan catatan saksi mata tentang pementasan perdana Simfoni No. 9 di Wina, 7 Mei 1824.