Kendi yang Retak
Setiap pagi, pikulan di bahu dan dua wadah air di kedua ujungnya. Gambar: Department of Foreign Affairs and Trade (Australia) · CC BY 2.0 · sumber
Di sebuah desa di kaki bukit, hiduplah seorang pemikul air. Setiap pagi ia berjalan ke mata air di lembah, lalu pulang ke rumah majikannya dengan sebatang pikulan di bahu. Di ujung kiri pikulan tergantung sebuah kendi tanah liat yang utuh dan mulus. Di ujung kanan tergantung kendi lain yang sama besarnya, tetapi memiliki retakan panjang di sisinya.
Setiap kali tiba di rumah, kendi yang utuh selalu masih penuh. Sementara kendi yang retak hanya tersisa setengah, karena airnya menetes sepanjang jalan.
Dua tahun lamanya hal itu terjadi setiap hari. Kendi yang utuh merasa bangga, karena ia selalu menunaikan tugasnya dengan sempurna. Kendi yang retak justru semakin malu. Ia merasa tidak berguna, karena hanya mampu menjalankan separuh dari tugas yang seharusnya.

Suatu pagi, di tepi mata air, kendi yang retak memberanikan diri berbicara kepada si pemikul air.
“Tuan, aku malu sekali. Aku ingin meminta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?” tanya si pemikul air heran.
“Selama dua tahun ini aku hanya bisa membawa setengah air sampai ke rumah. Retakanku membuat air bocor di sepanjang jalan. Karena aku, kerja kerasmu tidak pernah mendapat hasil yang penuh.”
Si pemikul air tersenyum. “Nanti, dalam perjalanan pulang, coba perhatikan bunga-bunga di tepi jalan.”
Benar saja. Sepanjang jalan setapak menuju rumah, kendi yang retak melihat bunga-bunga liar bermekaran: kuning, ungu, dan merah muda, bergoyang tertiup angin pagi. Hatinya sedikit terhibur. Namun begitu sampai di rumah, ia kembali sedih karena airnya lagi-lagi tinggal setengah.

Si pemikul air lalu berkata dengan lembut:
“Apakah kamu memperhatikan? Bunga-bunga itu hanya tumbuh di sisi jalanmu, tidak di sisi kendi yang satunya. Sejak awal aku tahu kamu retak. Maka aku menabur benih bunga di sepanjang sisi jalanmu, dan setiap hari, tanpa kamu sadari, kamulah yang menyiraminya. Dua tahun ini aku bisa memetik bunga-bunga itu untuk menghiasi meja majikanku. Kalau kamu tidak seperti dirimu apa adanya, rumah itu tidak akan pernah seindah sekarang.”
Kendi yang retak terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi malu pada retakannya.
💖 Pesan Moral
- Setiap orang punya “retakan”. Kekurangan bukan alasan untuk merasa tidak berharga.
- Kelemahan bisa menjadi berkat ketika ditempatkan di tempat yang tepat dan dipandang dengan mata yang penuh kasih.
- Jangan hanya mengukur diri dari apa yang hilang. Lihat juga apa yang tumbuh karena kehadiran kita.
- Bagi orang tua, guru, dan pemimpin: kenali “retakan” orang-orang di sekitarmu, lalu taburkan benih di sisi jalan mereka.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah rakyat yang banyak disebut berasal dari India; penulis aslinya tidak diketahui.