Keledai di Dalam Sumur
Sumur dan keledai: masalah yang menimbun bisa menjadi pijakan untuk naik. Gambar: Jeff Attaway from Dakar, Senegal · CC BY 2.0 · sumber
Suatu siang, keledai milik seorang petani tua terperosok ke dalam sumur kering di tepi ladang. Hewan malang itu meringkik keras berjam-jam, sementara sang petani mondar-mandir di bibir sumur, memikirkan cara untuk menolongnya.
Sumur itu dalam. Tali tidak cukup kuat untuk mengangkat tubuh keledai yang berat. Sang petani juga tidak punya uang untuk menyewa alat. Setelah lama berpikir, ia sampai pada kesimpulan yang menyedihkan: keledainya sudah tua, dan sumur itu memang sudah lama kering dan perlu ditutup. Tidak ada gunanya bersusah payah.
Dengan berat hati, ia memanggil para tetangganya. “Tolong bantu aku menimbun sumur ini,” katanya lirih.
Mereka pun mengambil sekop dan mulai melemparkan tanah ke dalam sumur. Ketika gumpalan tanah pertama mengenai punggungnya, keledai itu menyadari apa yang sedang terjadi. Ia meringkik semakin keras, penuh ketakutan.
Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba ringkikannya berhenti. Sumur itu menjadi sunyi.
Orang-orang terus menyekop tanah. Setelah beberapa lama, sang petani memberanikan diri melongok ke bawah. Ia tertegun melihat apa yang terjadi.
Setiap kali segumpal tanah jatuh ke punggungnya, keledai itu menggoyangkan badannya sehingga tanah itu luruh ke bawah kakinya. Lalu ia melangkah naik, berdiri di atas tanah itu. Sekop demi sekop, gumpalan demi gumpalan, ia terus mengibaskan tanah dan melangkah naik.
Para tetangga yang melihatnya mulai bersemangat. Mereka menyekop lebih cepat. Dan si keledai terus naik, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya permukaan tanah cukup tinggi baginya untuk melompati bibir sumur. Ia berlari kecil ke ladang, berdebu tetapi selamat, disambut tawa lega semua orang.
Sang petani duduk di tanah, terharu sekaligus malu. Ia hampir menyerah pada keledainya, tetapi keledai itu sendiri tidak pernah menyerah.
Hidup kadang memperlakukan kita seperti sumur itu. Kita dilempari “tanah”: kritik, kegagalan, fitnah, kekecewaan, masalah yang datang bertubi-tubi. Kita punya dua pilihan. Kita bisa membiarkan semua itu mengubur kita, atau kita bisa mengibaskannya dan menjadikannya pijakan untuk naik satu langkah lagi.
Yang menentukan bukanlah seberapa banyak tanah yang menimpa kita, melainkan apa yang kita lakukan dengannya.
💖 Pesan Moral
- Masalah yang menimpa kita bisa menjadi pijakan, asalkan kita tidak membiarkannya menumpuk di punggung.
- Kibaskan dan melangkahlah: jangan berlama-lama meratapi, tetapi carilah langkah berikutnya.
- Jangan cepat menyerah pada orang lain, apalagi pada diri sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer tentang keledai di dalam sumur yang penulis aslinya tidak diketahui.