Tukang Sepatu dan Para Kurcaci
Tukang sepatu dan istrinya akhirnya melihat siapa penolong mereka. Gambar: George Cruikshank · Public domain · sumber
Ada seorang tukang sepatu yang jujur dan rajin, tetapi nasibnya kurang beruntung. Usahanya semakin sepi, dan akhirnya ia hanya punya sisa kulit yang cukup untuk membuat sepasang sepatu saja.
Malam itu ia memotong kulit tersebut dengan hati-hati, berniat menjahitnya esok pagi. Lalu ia berdoa, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan, dan tidur dengan hati tenang.
Esok paginya, betapa terkejutnya ia. Di atas meja kerjanya sudah berdiri sepasang sepatu yang telah selesai dijahit. Jahitannya sangat rapi, tak ada satu tusukan pun yang miring. Benar-benar sebuah karya yang sempurna.
Tak lama kemudian datanglah seorang pembeli. Ia sangat menyukai sepatu itu dan membayarnya lebih mahal dari harga biasa. Dengan uang itu, si tukang sepatu bisa membeli kulit untuk dua pasang sepatu.
Malamnya ia memotong kulit untuk dua pasang, lalu tidur. Esok paginya, dua pasang sepatu sudah jadi. Pembeli pun berdatangan, dan uangnya cukup untuk membeli kulit empat pasang. Begitulah terus berulang. Apa pun yang ia potong di malam hari, pagi harinya sudah menjadi sepatu yang indah. Lambat laun, ia hidup berkecukupan.
Suatu malam menjelang Natal, ia berkata kepada istrinya, “Bagaimana kalau malam ini kita berjaga untuk melihat siapa yang menolong kita selama ini?” Istrinya setuju. Mereka menyalakan lilin dan bersembunyi di balik gantungan baju.
Tepat tengah malam, datanglah dua kurcaci kecil yang tidak berpakaian. Mereka duduk di meja kerja, mengambil kulit yang sudah dipotong, dan mulai menjahit dan memaku dengan jari-jari mungil yang lincah. Mereka bekerja tanpa henti hingga semua sepatu selesai, lalu menghilang begitu saja.
Esok paginya sang istri berkata, “Kurcaci-kurcaci itu telah membuat kita sejahtera. Kita harus membalas kebaikan mereka. Kasihan, mereka tidak punya baju dan pasti kedinginan. Aku akan menjahitkan kemeja, rompi, jas, dan celana untuk mereka, juga merajut kaus kaki. Kau buatkan mereka sepatu kecil.”
Suaminya setuju dengan senang hati. Setelah semua selesai, malam itu mereka meletakkan hadiah-hadiah mungil itu di atas meja, menggantikan kulit yang biasanya ada di sana. Lalu mereka bersembunyi lagi.
Tengah malam, para kurcaci datang dan bersiap bekerja. Ketika melihat pakaian kecil di atas meja, mereka terheran-heran, lalu bersorak gembira. Cepat-cepat mereka mengenakan pakaian itu, mengelus-elus kain yang lembut, dan bernyanyi:
“Lihat, kami kini rapi dan tampan, tak perlu lagi kami jadi tukang!”
Mereka menari dan melompat di atas kursi dan bangku, lalu menari keluar pintu. Sejak malam itu mereka tak pernah datang lagi. Tetapi si tukang sepatu tetap hidup makmur, dan apa pun yang ia kerjakan selalu berhasil, sampai akhir hayatnya.
💖 Pesan Moral
- Kejujuran dan kerja keras sering membuka jalan pertolongan yang tidak terduga.
- Balaslah kebaikan dengan kebaikan. Rasa terima kasih yang tulus membuat hati semua orang bahagia.
- Perhatikan kebutuhan orang yang menolong kita, bukan hanya apa yang mereka berikan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara, “Peri-Peri Kecil dan Tukang Sepatu” (Kinder- und Hausmärchen no. 39, 1812).