Biji Gandum Sebesar Telur Ayam
Dulu, kata sang kakek buyut, butir gandum sebesar telur ayam. Gambar: Smihael · CC BY-SA 3.0 · sumber
Suatu hari beberapa anak bermain di sebuah jurang dan menemukan benda aneh. Bentuknya seperti biji gandum, ada alurnya di tengah, tetapi besarnya hampir sama dengan telur ayam. Seorang pengembara melihatnya, membelinya dengan sedikit uang, lalu menjualnya kepada raja sebagai barang langka.
Raja memanggil para cendekiawan istana. “Benda apakah ini? Di mana dan kapan biji seperti ini bisa tumbuh?” Mereka membaca buku dan berdiskusi berhari-hari, tetapi tidak menemukan jawaban. “Mungkin sebaiknya Baginda bertanya kepada para petani,” usul mereka. “Barangkali ada orang tua yang pernah mendengar kakeknya bercerita.”
Raja pun memerintahkan agar dicari petani yang paling tua. Dibawalah seorang kakek yang punggungnya bungkuk, kulitnya pucat, giginya sudah habis. Ia berjalan tertatih-tatih dengan dua tongkat. Matanya hampir buta dan telinganya hampir tuli. Ia meraba biji itu lama sekali.
“Hamba tidak pernah menanam biji seperti ini, Baginda,” katanya. “Semua gandum yang hamba tanam bijinya kecil, seperti sekarang. Tanyakanlah kepada ayah hamba. Mungkin ia pernah mendengar.”
Maka dipanggillah ayah kakek itu. Yang mengherankan, ia datang hanya dengan satu tongkat. Matanya masih cukup jelas dan pendengarannya lumayan. “Tidak, Baginda,” jawabnya setelah memeriksa biji itu. “Gandum di zaman hamba lebih besar dan lebih banyak daripada sekarang, tetapi belum pernah sebesar ini. Hamba pernah mendengar ayah hamba bercerita bahwa di zamannya gandum tumbuh lebih baik lagi. Tanyakanlah kepadanya.”
Akhirnya datanglah sang kakek buyut. Kali ini ia berjalan tegak tanpa tongkat sama sekali. Langkahnya ringan, matanya terang, suaranya jernih, dan giginya masih utuh. Ia memegang biji itu dan tersenyum.
“Sudah lama sekali aku tidak melihat biji seperti ini,” katanya. Ia menggigitnya sedikit dan mencicipinya. “Ya, inilah gandum yang dulu kami tanam.”
Raja bertanya, “Kakek, di mana dulu gandum seperti ini tumbuh? Apakah kau membelinya atau menanamnya sendiri?”
“Pada zamanku, Baginda, tidak ada yang berpikir untuk menjual atau membeli roti. Kami tidak mengenal uang. Setiap orang punya cukup gandum untuk dirinya sendiri. Tanah adalah milik Tuhan, dan siapa pun boleh membajak di mana saja ia bisa. Kami hidup dari hasil kerja tangan kami sendiri dan tidak pernah mengingini milik orang lain.”
Raja bertanya lagi, “Mengapa dulu gandum tumbuh sebesar ini, dan sekarang tidak? Dan mengapa engkau, yang paling tua, justru paling sehat, sementara cucumu berjalan dengan dua tongkat?”
Kakek buyut itu menjawab, “Karena orang-orang sudah berhenti hidup dari kerja mereka sendiri, dan mulai bergantung serta mengincar hasil kerja orang lain. Di zaman dulu, orang hidup sesuai kehendak Tuhan. Mereka memakai apa yang mereka miliki, dan tidak merebut milik sesamanya.”
💖 Pesan Moral
- Hidup dari hasil kerja sendiri membawa kesehatan jiwa dan raga.
- Keserakahan dan iri hati perlahan merusak kehidupan, bahkan tanah tempat kita berpijak.
- Kecukupan lebih membahagiakan daripada kelimpahan yang didapat dengan mengambil hak orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Biji Gandum Sebesar Telur Ayam” (1886).