Kura-kura yang Bernama “Kalian Semua”
Kura-kura Afrika. Menurut cerita Igbo, tempurungnya retak-retak sejak ia jatuh dari pesta di langit. Gambar: Charles J. Sharp · CC BY 3.0 · sumber
Pada zaman dahulu, kata orang Igbo di Nigeria, langit mengadakan pesta besar. Semua burung diundang untuk datang dan menikmati hidangan istimewa. Kura-kura, yang sedang dilanda kelaparan karena musim paceklik, mendengar kabar itu dan sangat ingin ikut.
Masalahnya, kura-kura tidak punya sayap. Maka ia mendatangi burung-burung dan memohon dengan kata-kata manis. Kura-kura memang terkenal pandai berbicara. Burung-burung awalnya ragu, karena mereka tahu kura-kura suka berbuat licik. Tetapi bujukannya sangat meyakinkan, dan akhirnya setiap burung mencabut sehelai bulu untuknya. Dengan bulu-bulu itu, kura-kura membuat sepasang sayap.
Dalam perjalanan ke langit, kura-kura berkata, “Teman-teman, dalam pesta besar, setiap tamu sebaiknya punya nama baru untuk acara itu. Bagaimana kalau kita semua memilih nama baru?” Burung-burung setuju. Masing-masing memilih nama. Kura-kura memilih nama yang aneh: “Kalian Semua.”
Setibanya di langit, para penghuni langit menyambut mereka dengan ramah. Kura-kura, dengan pakaian bulu warna-warninya, langsung tampil sebagai juru bicara. Ia berterima kasih dengan kata-kata yang indah, sehingga tuan rumah mengira ia adalah raja para burung.
Hidangan pun disajikan: sup, ubi, ikan, dan buah-buahan. Kura-kura bertanya kepada tuan rumah, “Untuk siapa hidangan ini disiapkan?”
“Untuk kalian semua,” jawab tuan rumah.
Kura-kura berpaling kepada burung-burung. “Kalian dengar sendiri. Hidangan ini untuk ‘Kalian Semua’, dan itu namaku. Kalian harus menunggu sampai aku selesai.”
Burung-burung terkejut, tetapi mereka tidak ingin membuat keributan di rumah orang. Mereka hanya bisa menyaksikan kura-kura menghabiskan bagian terbaik dari semua hidangan. Yang tersisa untuk mereka hanyalah tulang dan sisa-sisa makanan.
Burung-burung pulang dengan perut lapar dan hati yang marah. Sebelum terbang, masing-masing mengambil kembali bulu yang dulu mereka pinjamkan. Kura-kura pun tertinggal di langit tanpa sayap. Ia meminta salah satu burung menyampaikan pesan kepada istrinya agar menumpuk barang-barang lunak di halaman supaya ia bisa melompat turun dengan aman. Tetapi burung yang masih kesal itu justru menyampaikan pesan sebaliknya, sehingga istrinya mengeluarkan semua barang yang keras.
Kura-kura melompat dan jatuh menghantam tanah. Cangkangnya pecah berkeping-keping. Seorang tabib menyatukan kembali pecahan-pecahan itu, dan itulah sebabnya, kata orang Igbo, cangkang kura-kura sampai hari ini tampak seperti tambalan.
Chinua Achebe, sastrawan besar Nigeria, memasukkan kisah ini ke dalam novelnya yang terkenal sebagai cerita yang dituturkan seorang ibu kepada anaknya di malam hari. Begitulah cerita rakyat bekerja: diwariskan dari mulut ke mulut, membawa nilai-nilai yang dijaga sebuah masyarakat selama berabad-abad.
💖 Pesan Moral
- Kelicikan yang merugikan teman pada akhirnya akan menjatuhkan diri sendiri.
- Kepercayaan yang dikhianati sulit dipulihkan, dan bekasnya tetap tinggal.
- Keserakahan membuat kita kehilangan teman yang dulu mau menolong.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Igbo (Nigeria) yang juga dikisahkan dalam novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe (1958).