Rumah Seribu Cermin
Galerie des Glaces di Versailles, gambaran ruang penuh cermin. Gambar: Myrabella · CC BY-SA 3.0 · sumber
Di ujung sebuah desa kecil berdiri rumah tua yang disebut Rumah Seribu Cermin. Tak ada yang tinggal di sana. Dindingnya, dari lantai sampai langit-langit, tertutup cermin. Pintunya selalu terbuka, dan orang-orang desa suka bercerita bahwa siapa pun yang masuk akan keluar dengan membawa kesan yang berbeda-beda.
Suatu pagi seekor anjing kecil yang riang lewat di depannya. Ekornya bergoyang, telinganya tegak, dan ia sedang senang tanpa alasan khusus, seperti biasanya. Karena penasaran, ia menaiki tangga dan melongok ke dalam.
Ia terkejut bahagia. Di hadapannya ada seribu anjing kecil, semuanya menatapnya dengan mata berbinar dan ekor bergoyang. Ia tersenyum, dan seribu anjing itu tersenyum kembali. Ia menyalak riang, dan seribu salakan riang menjawabnya.
Ia keluar sambil melompat-lompat. “Tempat ini luar biasa,” pikirnya. “Aku belum pernah bertemu dengan begitu banyak teman yang ramah. Aku harus sering datang ke sini.”
Tak lama kemudian seekor anjing lain lewat. Hidupnya pernah keras, dan ia sudah terbiasa curiga. Ekornya turun, bibirnya terangkat sedikit. Ia menaiki tangga itu pelan-pelan, siap untuk menghadapi yang terburuk.
Begitu melongok ke dalam, ia melihat seribu anjing yang menatapnya dengan tajam. Ia menggeram, dan seribu geraman menjawabnya. Ia memamerkan gigi, dan seribu mulut membalas memamerkan gigi. Bulu di lehernya berdiri. Semakin ia marah, semakin marah pula mereka semua.
Ia lari keluar dengan jantung berdebar. “Tempat yang mengerikan,” gerutunya. “Semua anjing di sana membenciku. Aku tidak akan pernah kembali.”
Rumah itu tetap berdiri seperti semula, dengan cermin-cerminnya yang tenang. Sampai hari ini orang desa masih berdebat apakah rumah itu ramah atau berbahaya. Dua ekor anjing itu pun akan memberi jawaban yang berbeda, padahal keduanya melihat ruangan yang sama.
💖 Pesan Moral
- Dunia sering memantulkan sikap yang kita bawa. Wajah ramah cenderung disambut ramah, dan wajah curiga disambut curiga.
- Sebelum menilai orang lain jahat, periksa dulu wajah sendiri. Bisa jadi yang kita lihat adalah bayangan kita.
- Sikap curiga bisa lahir dari luka lama. Anjing kedua tidak jahat; ia hanya membawa pengalamannya masuk ke ruangan itu.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan modern yang beredar luas tanpa nama penulis. Kisah ini kadang disebut berasal dari Jepang, tetapi asal-usulnya tidak dapat dipastikan.