Tiga Puluh Burung Mencari Simurgh
Para burung bermusyawarah, folio dari naskah Mantiq al-Tayr karya Attar (Habiballah dari Sava, sekitar 1600). Gambar: Habiballah Savaji · CC0 · sumber
Pada suatu hari, seluruh burung di dunia berkumpul dalam sebuah musyawarah besar. Ada elang, merak, bulbul, bebek, burung hantu, burung pipit, dan ribuan burung lainnya. Mereka resah karena dunia burung tidak punya raja, tidak punya pemimpin yang bisa mereka teladani.
Lalu majulah burung hudhud, yang dikenal bijak dan sudah banyak mengembara. “Saudara-saudaraku, kita sebenarnya punya raja,” katanya. “Namanya Simurgh. Ia tinggal jauh di balik Gunung Qaf. Siapa yang ingin bertemu dengannya harus menempuh perjalanan panjang melewati tujuh lembah.”
Burung-burung itu bersemangat. Namun, ketika mendengar betapa sulitnya perjalanan itu, satu per satu mulai mencari alasan. Bulbul berkata ia tidak bisa meninggalkan bunga mawar yang ia cintai. Merak berkata ia terlalu indah untuk bersusah payah. Bebek tak mau jauh dari air. Burung hantu tak mau meninggalkan reruntuhan tempatnya menyimpan harta. Burung pipit merasa dirinya terlalu kecil dan lemah.
Dengan sabar, hudhud menjawab setiap alasan itu dengan kisah dan nasihat. Ia menunjukkan bahwa semua yang mereka genggam hanyalah keterikatan yang akan menghalangi mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Akhirnya ribuan burung berangkat. Mereka melewati tujuh lembah: Lembah Pencarian, Lembah Cinta, Lembah Pengetahuan, Lembah Ketidakbergantungan, Lembah Kesatuan, Lembah Ketakjuban, dan terakhir Lembah Kefanaan. Perjalanan itu sangat berat. Ada yang mati kehausan, ada yang tersesat, ada yang dimangsa binatang buas, ada yang menyerah dan kembali.
Dari ribuan burung yang berangkat, hanya tiga puluh ekor yang berhasil sampai di istana Simurgh. Tubuh mereka lemah, bulu mereka rontok, dan sayap mereka patah-patah. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan.
Lalu tirai terakhir tersingkap. Mereka memandang ke depan dengan penuh harap, ingin melihat wajah sang raja.
Yang mereka lihat ternyata adalah sebuah danau yang jernih seperti cermin. Di permukaannya, mereka melihat pantulan diri mereka sendiri: tiga puluh burung. Dalam bahasa Persia, “tiga puluh burung” diucapkan si murgh. Mereka tersadar bahwa Simurgh yang mereka cari selama ini bukanlah sosok yang jauh di luar sana. Ia ditemukan dalam perjalanan itu sendiri, dalam diri mereka yang telah ditempa, dibersihkan, dan bersatu.
Kisah ini ditulis oleh penyair sufi Persia, Fariduddin Attar, sebagai perumpamaan tentang pencarian makna hidup. Alasan-alasan para burung adalah alasan-alasan kita juga: kenyamanan, kecintaan pada harta, rasa minder, atau kesombongan. Dan yang kita temukan di akhir perjalanan sering kali adalah diri kita yang telah berubah karena berani menempuhnya.
💖 Pesan Moral
- Perjalanan mencari makna dimulai dengan berani meninggalkan zona nyaman.
- Banyak orang berhenti karena alasan; hanya yang tekun sampai di tujuan.
- Yang kita cari sering ditemukan dalam diri kita sendiri, setelah kita ditempa oleh perjalanan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari puisi epik Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya Fariduddin Attar dari Nishapur, Persia (sekitar 1177).