Penyu Buta dan Lubang di Kuk
Seekor penyu naik ke permukaan untuk bernapas, seperti penyu dalam perumpamaan Buddha. Gambar: Ppmh21 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Bayangkan seluruh bumi ini tertutup air. Tak ada daratan, tak ada pulau, hanya satu lautan besar tanpa tepi. Di permukaannya mengapung sebuah kuk kayu, palang yang biasa dipasang di leher sapi, dengan satu lubang kecil di tengahnya. Angin dari timur mendorongnya ke barat, angin dari barat mendorongnya ke timur. Angin utara dan selatan membawanya ke arah lain lagi. Kuk itu tak pernah diam di satu tempat.
Di dalam lautan itu hidup seekor penyu buta. Sekali dalam seratus tahun, ia naik ke permukaan untuk bernapas, sebentar saja, lalu menyelam lagi.
Gambaran ini disampaikan Buddha kepada para biksu, menurut sebuah sutta pendek yang dikenal sebagai Chiggala Sutta. Lalu beliau mengajukan satu pertanyaan.
“Bagaimana menurut kalian? Mungkinkah penyu buta yang muncul sekali seratus tahun itu memasukkan lehernya ke lubang pada kuk tersebut?”
Para biksu menjawab bahwa kalau itu sampai terjadi, tentu hanya karena kebetulan yang luar biasa.
Bayangkan sejenak penyu itu. Ia tidak tahu letak kuk tersebut. Ia tidak bisa melihatnya. Kuk itu pun tidak menunggu; angin terus memindahkannya. Dari seluruh lautan, si penyu harus muncul tepat di satu titik sebesar lehernya, pada waktu yang tepat, sekali dalam seratus tahun. Peluangnya nyaris tak bisa dihitung.
Lalu Buddha menyampaikan maksudnya. Selangka itulah, kata beliau, seseorang memperoleh kelahiran sebagai manusia. Selangka itu pula munculnya seorang Buddha di dunia, dan munculnya ajaran yang beliau jelaskan. Kini ketiganya sudah ada. Karena itu, kata beliau, jangan menyia-nyiakan keadaan ini; pahamilah dengan sungguh-sungguh apa itu penderitaan, sebabnya, berakhirnya, dan jalan menuju ke sana.
Menariknya, sutta ini tidak bercerita tentang keajaiban. Tak ada dewa, tak ada mukjizat, hanya seekor penyu, sebilah kayu, dan angin. Namun orang yang pernah merenungkannya sulit melupakannya. Kita terbiasa mengukur hidup dengan apa yang kurang: gaji yang belum cukup, rumah yang belum jadi, rencana yang tertunda. Gambaran ini mengajak kita memandang dari arah yang berlawanan. Kita sudah ada di sini, bernapas dan bisa berpikir, bisa memilih yang baik, bisa mendengar orang lain dan berubah. Dalam pandangan tradisi ini, semua itu sebuah peristiwa yang sangat jarang terjadi.
Tidak perlu menjadi penganut Buddha untuk menangkap maksudnya. Hari yang biasa-biasa saja, dengan anak yang bertanya, teman yang menelepon, dan pekerjaan yang masih menunggu, adalah kesempatan yang tidak dijamin datang lagi. Yang paling sering kita sia-siakan biasanya justru yang paling sulit kita dapatkan kembali.
💖 Pesan Moral
- Hidup ini langka. Kita jarang merasakannya karena kita sudah terbiasa berada di dalamnya.
- Kesempatan untuk belajar dan berbuat baik tidak otomatis ada. Saat keadaan memungkinkan, gunakanlah.
- Ubah cara menghitung. Sebelum mengeluhkan yang belum ada, hitung dulu yang sudah ada.
- Jangan menunda hal yang penting. Permintaan maaf, ucapan terima kasih, dan perubahan diri tidak bisa ditunda seratus tahun.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan dalam Chiggala Sutta, Samyutta Nikaya (SN 56.48), kitab kanon Buddhis berbahasa Pali. Perenungan di bagian akhir adalah tambahan Gudang Inspirasi.