Tanah Liat yang Harum Mawar
Sa'di berbincang dengan sahabatnya di taman, dari naskah Gulistan (Herat, 1427). Gambar: Jafar Tabrizi · Public domain · sumber
Pada suatu hari, Sa’di sedang berada di sebuah pemandian umum. Di negeri-negeri Persia pada masa itu, orang biasa membersihkan diri dengan tanah liat halus yang wangi, semacam lulur, sebelum dibilas dengan air hangat.
Seorang sahabat yang baik hati memberinya segumpal tanah liat. Ketika Sa’di memegangnya, ia terkejut. Gumpalan tanah itu menebarkan aroma yang sangat harum, begitu harum sampai seluruh ruangan terasa segar. Baunya seperti taman bunga di pagi hari.
Sa’di memandangi gumpalan tanah liat itu dan bertanya, “Wahai tanah liat, engkau ini apa? Apakah engkau kesturi? Apakah engkau ambar? Aku sungguh terpesona oleh keharumanmu.”
Dalam syairnya, Sa’di membayangkan tanah liat itu menjawab dengan rendah hati:
“Aku hanyalah segumpal tanah yang tak berharga. Tapi untuk beberapa waktu, aku pernah tinggal bersama bunga mawar. Keindahan teman dudukku itu meresap ke dalam diriku. Kalau tidak, aku tetaplah tanah yang sama seperti tanah lainnya.”
Kisah yang sangat singkat ini ditulis Sa’di di bagian pembuka bukunya yang terkenal, Gulistan, atau Taman Mawar. Ia menempatkannya di awal seakan ingin berkata: inilah cara memahami seluruh isi buku. Kita semua seperti tanah liat itu. Siapa diri kita, sebagian besar dibentuk oleh dengan siapa kita duduk, berbicara, dan menghabiskan waktu.
Pepatah kita mengenal hal yang serupa: berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut harum; berteman dengan pandai besi, kita bisa terkena percikan api atau baunya. Lingkungan yang baik tidak mengubah kita dalam satu hari. Ia meresap pelan-pelan, seperti harum mawar ke dalam tanah, sampai suatu hari orang lain mencium keharumannya dari diri kita.
Pertanyaannya, “mawar” seperti apa yang kita pilih untuk menemani hari-hari kita? Siapa sahabat kita, buku apa yang kita baca, tontonan apa yang kita nikmati? Semua itu, sedikit demi sedikit, sedang meresap ke dalam diri kita.
Dan sebaliknya, bagi orang-orang di sekitar kita, kita pun bisa menjadi “mawar” itu. Kebaikan, kesabaran, dan kejujuran yang kita jalani setiap hari bisa meresap ke dalam hidup anak-anak, teman, dan rekan kerja kita, bahkan tanpa kita sadari.
Pepatah Persia lain yang sering dikaitkan dengan kisah ini berbunyi: katakan kepadaku siapa temanmu, dan aku akan mengatakan siapa dirimu. Tujuh ratus tahun lebih setelah Sa’di menuliskannya, pesan itu masih terasa benar.
💖 Pesan Moral
- Kita dibentuk oleh orang-orang yang kita temani. Pilihlah pergaulan dengan bijak.
- Kebaikan meresap perlahan, seperti harum mawar ke dalam tanah.
- Jadilah “mawar” bagi orang lain, sehingga keharuman kita ikut menyebar.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari syair pembuka Gulistan (Taman Mawar) karya Sa’di dari Syiraz, Persia (1258).