Ibadah Terbaik bagi Raja yang Zalim
Kunjungan kepada seorang darwis, dari naskah Gulistan karya Sa'di (Bukhara, 1560-61). Gambar: Mahmud Muzahhib · Public domain · sumber
Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang terkenal zalim. Ia menarik pajak dengan kejam, menghukum orang tanpa pengadilan, dan merampas harta rakyat sesuka hatinya. Rakyatnya hidup dalam ketakutan. Banyak yang memilih meninggalkan negeri itu daripada terus menderita.
Anehnya, raja ini juga ingin dikenal sebagai orang yang saleh. Ia sering mengundang orang-orang suci ke istananya dan meminta nasihat tentang ibadah.
Suatu hari, ia memanggil seorang darwis yang terkenal bijak dan tidak takut kepada siapa pun. Raja bertanya dengan sombong, “Wahai orang suci, ibadah apa yang paling utama untuk orang seperti aku? Aku ingin melakukan amalan terbaik.”
Para pejabat yang hadir menunggu jawaban. Mereka mengira darwis itu akan menyebut salat malam yang panjang, puasa, atau sedekah yang banyak.
Darwis itu menatap raja dengan tenang, lalu menjawab, “Bagi Paduka, ibadah yang paling utama adalah tidur siang.”
Raja terkejut. “Tidur siang? Bagaimana mungkin tidur menjadi ibadah terbaik?”
“Karena selama Paduka tidur,” jawab darwis itu, “rakyat Paduka terbebas dari kezaliman Paduka, walau hanya untuk satu atau dua jam.”
Ruangan menjadi hening. Para pejabat menahan napas, takut sang darwis akan dihukum mati. Namun, jawaban yang jujur dan berani itu menusuk hati sang raja. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa salat dan puasanya tidak berarti apa-apa selama tangannya masih menyakiti orang lain.
Sa’di, yang mencatat kisah ini dalam Gulistan, menuliskan pesan yang kurang lebih berarti: orang zalim yang tidur sepanjang siang lebih baik daripada yang terjaga, dan orang zalim yang mati lebih baik daripada yang hidup, karena tidur dan matinya berarti berhentinya penderitaan orang lain.
Kisah ini bukan hanya untuk raja. Setiap orang yang memiliki kekuasaan, sekecil apa pun, bisa belajar darinya: atasan di kantor, orang tua di rumah, atau siapa saja yang punya pengaruh atas orang lain. Ibadah dan kebaikan yang kita tunjukkan di depan umum tidak akan bermakna jika di saat yang sama kita membuat orang di sekitar kita menderita.
Darwis itu juga mengajarkan sesuatu tentang keberanian. Ia bisa saja memberi jawaban yang menyenangkan hati raja, seperti yang dilakukan banyak penjilat di istana. Namun ia memilih berkata jujur, meski taruhannya nyawa. Kejujuran seperti inilah yang paling dibutuhkan oleh para pemimpin, dan justru paling jarang mereka dengar.
💖 Pesan Moral
- Ibadah sejati terlihat dari cara kita memperlakukan sesama.
- Berhenti menyakiti orang lain adalah kebaikan pertama yang harus dilakukan.
- Kejujuran yang berani kadang menjadi nasihat paling berharga bagi orang yang berkuasa.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Gulistan karya Sa’di dari Syiraz (1258), Bab I tentang perilaku para raja.