Aku Mengeluh Tak Punya Sepatu
Sa'di sang pengembara dalam naskah Bukhara abad ke-16. Dalam salah satu perjalanannya, ia belajar bersyukur meski tak bersepatu. Gambar: Tidak diketahui (naskah Bukhara, 1547) · Public domain · sumber
Sa’di dari Syiraz adalah salah satu penyair terbesar Persia. Sebelum menjadi terkenal, ia menghabiskan puluhan tahun mengembara dari satu negeri ke negeri lain: Baghdad, Damaskus, Hijaz, hingga Afrika Utara. Perjalanan itu tidak selalu nyaman. Ada kalanya ia hidup sangat miskin.
Dalam bukunya, Gulistan, Sa’di menceritakan sebuah pengalaman kecil yang tidak pernah ia lupakan.
Suatu ketika, dalam perjalanannya, sepatunya sudah rusak dan ia tidak punya uang untuk membeli yang baru. Ia berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang panas dan berbatu. Kakinya lecet, langkahnya berat, dan hatinya penuh keluhan. “Mengapa nasibku begini?” pikirnya. “Orang-orang lain bisa berjalan dengan sepatu yang bagus, sedangkan aku harus menahan sakit di setiap langkah.”
Dengan hati yang murung, ia masuk ke sebuah masjid besar di kota Kufah untuk beristirahat. Di sana, ia melihat seorang lelaki yang duduk bersandar di dinding. Lelaki itu tidak punya kaki sama sekali.
Sa’di tertegun. Seketika semua keluhannya terasa memalukan. Ia baru saja menggerutu karena tidak punya sepatu, sementara di hadapannya ada seseorang yang bahkan tidak punya kaki untuk dipakaikan sepatu.
Sa’di menulis bahwa pada saat itu ia bersyukur kepada Tuhan atas karunia-Nya, dan menerima dengan sabar keadaannya yang tanpa sepatu. Kakinya mungkin lecet, tetapi kakinya masih ada. Ia masih bisa berjalan, berdiri, dan melanjutkan perjalanan ke mana pun ia mau.
Pengalaman kecil ini mengajarkan sesuatu yang sangat besar. Rasa tidak puas sering muncul karena kita membandingkan diri dengan orang yang memiliki lebih banyak. Kita melihat ke atas dan merasa kurang. Namun, ketika kita mau melihat ke sekeliling, kita akan menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya kita miliki: kesehatan, keluarga, kesempatan, dan hari ini.
Tentu kisah ini bukan ajakan untuk merasa lebih beruntung di atas penderitaan orang lain. Lelaki tanpa kaki itu juga mengajarkan sesuatu: ia duduk dengan tenang di masjid, menjalani hidupnya tanpa terlihat mengeluh. Barangkali dialah yang lebih kaya hatinya.
Kisah ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa dan dikutip selama lebih dari tujuh abad, dari Persia hingga Eropa, karena pesannya tetap relevan bagi siapa saja yang pernah merasa hidupnya serba kurang.
Lain kali ketika kita merasa hidup tidak adil, cobalah berhenti sejenak dan menghitung apa yang masih kita miliki. Barangkali daftar itu jauh lebih panjang daripada daftar keluhan kita.
💖 Pesan Moral
- Dalam urusan dunia, sesekali lihatlah ke bawah, agar kita tahu betapa banyak yang patut disyukuri.
- Keluhan kita sering terasa kecil ketika kita melihat beban orang lain.
- Kesabaran dan syukur membuat langkah yang berat terasa lebih ringan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah pengalaman Sa’di dalam Gulistan (1258), Bab III tentang keutamaan rasa cukup.