Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Cindelaras dan Ayam Jantan yang Berkokok Kebenaran

2 menit baca

Ayam jantan yang kokoknya membuka kebenaran tentang Cindelaras. Gambar: Jakub Hałun · CC BY 4.0 · sumber

Di Kerajaan Jenggala, Jawa Timur, Raden Putra memerintah bersama permaisuri dan seorang selir. Permaisuri dikenal baik hati, sedangkan sang selir menyimpan rasa iri. Ia ingin menjadi satu-satunya perempuan yang berkuasa di istana.

Sang selir menyusun rencana licik. Dengan bantuan seorang tabib istana, ia berpura-pura sakit parah, lalu sang tabib mengatakan kepada raja bahwa penyakit itu disebabkan racun yang dibubuhkan permaisuri ke dalam makanannya.

Raden Putra murka tanpa menyelidiki lebih dulu. Ia memerintahkan patihnya membuang permaisuri ke hutan dan menghabisinya. Padahal saat itu permaisuri sedang mengandung.

Sang patih adalah orang yang bijak. Ia tahu permaisuri tidak bersalah. Ia membawanya ke hutan, membuatkannya sebuah pondok, lalu kembali ke istana membawa pedang yang dilumuri darah kelinci sebagai bukti palsu bahwa perintah telah dijalankan.

Di hutan itu, permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, berani, dan bersahabat dengan hewan-hewan hutan.

Suatu hari, seekor elang menjatuhkan sebutir telur di dekat Cindelaras. Ia merawatnya hingga menetas menjadi ayam jantan yang gagah. Ayam itu luar biasa: setiap kali berkokok, ia seolah bersenandung, “Kukuruyuk… tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah hutan, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra.”

Cindelaras heran dan bertanya kepada ibunya. Dengan berat hati sang ibu menceritakan semuanya. Cindelaras pun memutuskan pergi ke istana bersama ayam jantannya.

Di perjalanan, ayam itu selalu menang dalam setiap sabung ayam. Kabar itu sampai ke telinga Raden Putra, yang juga gemar menyabung ayam. Raja menantang Cindelaras dengan taruhan besar: jika ayam raja kalah, separuh kerajaan menjadi milik Cindelaras.

Ayam Cindelaras menang. Lalu ia berkokok dengan lantang, menyebut bahwa tuannya adalah anak Raden Putra. Raja tertegun. Ia memanggil patihnya, dan sang patih akhirnya menceritakan kebenaran yang selama ini ia simpan.

Raden Putra sangat menyesal. Ia menjemput permaisuri dari hutan dan memohon ampun. Selir yang jahat beserta tabibnya dihukum. Cindelaras kelak menggantikan ayahnya menjadi raja yang adil.

Di antara semua tokohnya, sang patih sering dianggap pahlawan tersembunyi. Ia berani tidak menjalankan perintah yang zalim, dan dengan diam-diam menjaga kebenaran sampai waktunya tiba.

💖 Pesan Moral

  • Selidiki dulu sebelum menghukum. Keputusan tergesa-gesa bisa menghancurkan orang yang tak bersalah.
  • Kebenaran mungkin tertunda, tetapi tidak bisa dikubur selamanya.
  • Berani berbuat benar, seperti sang patih, walau harus melawan perintah yang salah.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Jawa Timur “Cindelaras” dari masa Kerajaan Jenggala.