Monyet, Kura-kura, dan Pohon Pisang
Monyet dan pisang, sumber keserakahan dalam kisah ini. Gambar: Bruce Cowan · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu hari, seekor monyet dan seekor kura-kura berjalan bersama di tepi sungai. Mereka menemukan sebatang pohon pisang yang hanyut dan tersangkut di batu. Keduanya ingin memilikinya.
“Bagaimana kalau kita bagi dua saja?” usul Kura-kura.
Monyet setuju. Mereka memotong pohon itu menjadi dua. Monyet cepat-cepat memilih bagian atas yang berdaun hijau. “Bagian ini pasti tumbuh lebih cepat karena sudah ada daunnya,” pikirnya. Kura-kura mendapat bagian bawah yang hanya berupa batang dan akar.
Masing-masing menanam bagiannya. Beberapa hari kemudian, daun-daun di bagian milik Monyet layu dan mati, sebab tidak punya akar. Sementara itu, bagian milik Kura-kura tumbuh subur. Tunas baru bermunculan, dan lama-lama pohon itu berbuah lebat.
Kura-kura senang, tetapi ia tidak bisa memanjat. Ia pun meminta tolong kepada Monyet. “Kawan, maukah kau memetikkan pisang untukku? Kita bisa makan bersama.”
Monyet langsung memanjat. Namun sesampainya di atas, ia duduk di dahan dan memakan pisang-pisang itu satu per satu. Kulitnya ia lemparkan ke bawah, mengenai kepala Kura-kura.
“Sisakan untukku!” seru Kura-kura. Monyet hanya tertawa sambil terus makan sampai tak ada satu pun yang tersisa.
Kura-kura kesal. Ketika Monyet sedang lengah, ia menancapkan duri-duri tajam di sekeliling batang pisang. Saat Monyet turun dengan perut kenyang, tubuhnya tertusuk duri dan ia menjerit kesakitan.
Monyet marah besar dan menangkap Kura-kura. “Akan kuhukum kau! Kutumbuk kau di lesung, atau kulempar kau ke sungai!”
Kura-kura berpura-pura ketakutan. “Tumbuklah aku di lesung, asal jangan lempar aku ke sungai! Aku bisa tenggelam!”
Monyet yang ingin hukuman paling berat langsung melemparkan Kura-kura ke sungai. Kura-kura pun berenang dengan riang, lalu menyembulkan kepalanya dan tertawa. Ia memang hidup di air.
Cerita ini dikenal luas di Filipina. Pahlawan nasional Filipina, José Rizal, pernah menuliskannya dalam bahasa Inggris dan menerbitkannya di London pada tahun 1889, lengkap dengan ilustrasi buatannya sendiri. Ia ingin menunjukkan bahwa Filipina memiliki khazanah cerita rakyat yang kaya.
💖 Pesan Moral
- Keserakahan membawa celaka. Monyet mengambil semuanya dan akhirnya terluka.
- Yang tampak menarik di awal belum tentu yang terbaik; akar lebih penting daripada daun.
- Kecerdikan bisa menolong yang lemah menghadapi yang kuat namun ceroboh.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Filipina “Si Pagong at si Matsing” (Kura-kura dan Monyet), yang dituliskan José Rizal pada 1889.