Lutung Kasarung
Lutung jawa dari hutan Jawa Barat, wujud Sanghyang Guruminda dalam kisah ini. Gambar: The Lenk13 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di Kerajaan Pasir Batang di tanah Sunda, Prabu Tapa Agung yang sudah tua hendak menyerahkan takhta. Ia memilih putri bungsunya, Purbasari, yang dikenal lembut dan bijaksana, sebagai penggantinya.
Keputusan itu membuat kakak sulung Purbasari, Purbararang, iri bukan main. Ia merasa dirinyalah yang berhak menjadi ratu. Bersama tunangannya, Indrajaya, ia menyusun rencana jahat. Dengan bantuan seorang dukun, kulit Purbasari dibuat dipenuhi bercak hitam.
Purbararang lalu menghasut seisi istana. “Lihatlah, Purbasari terkena kutukan! Ia akan membawa sial bagi kerajaan.” Purbasari pun diusir dan diasingkan ke hutan.
Di hutan, Purbasari hidup sederhana di sebuah pondok. Ia tidak mengutuk kakaknya. Ia berteman dengan hewan-hewan, terutama seekor lutung, sejenis kera berbulu hitam, yang selalu menemani dan melindunginya. Masyarakat menyebutnya Lutung Kasarung, si lutung yang tersesat.
Lutung itu sebenarnya bukan kera biasa. Dalam legenda, ia adalah Sanghyang Guruminda dari kahyangan yang sedang menjalani hukuman turun ke bumi dalam wujud lutung. Ia tersentuh melihat ketulusan Purbasari yang tetap ramah walaupun hidupnya hancur.
Suatu malam, Lutung Kasarung berdoa memohon pertolongan. Muncullah sebuah telaga kecil yang airnya jernih. Ia meminta Purbasari mandi di sana. Ajaib, bercak-bercak hitam di kulit Purbasari luruh, dan ia kembali seperti sedia kala.
Kabar itu sampai ke istana. Purbararang tidak terima dan menantang adiknya beradu. Pertama, siapa yang rambutnya lebih panjang. Rambut Purbasari ternyata jauh lebih panjang. Lalu Purbararang menantang siapa yang tunangannya lebih tampan, yakin bahwa Purbasari hanya punya seekor kera.
Purbasari ragu, lalu menggandeng tangan Lutung Kasarung. Orang-orang tertawa mengejek. Namun di hadapan mereka, lutung itu berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah dan bercahaya.
Purbararang tak dapat berkata apa-apa. Ia mengakui kesalahannya dan memohon ampun. Purbasari, yang tidak pernah menyimpan dendam, memaafkan kakaknya. Ia kemudian naik takhta dan memerintah dengan adil bersama Sanghyang Guruminda.
Kisah Lutung Kasarung adalah salah satu pantun Sunda yang paling terkenal, bahkan pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1926 sebagai salah satu film cerita pertama yang dibuat di Hindia Belanda. Pesannya tetap relevan: penampilan bisa menipu, dan ketulusan hati pada akhirnya akan terlihat.
💖 Pesan Moral
- Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Lutung yang diejek ternyata yang paling mulia.
- Tetaplah baik walau diperlakukan tidak adil; kebaikan pada waktunya akan terlihat.
- Iri hati menghancurkan diri sendiri, sedangkan memaafkan memulihkan hubungan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pantun Sunda “Lutung Kasarung”, Jawa Barat.