Heungbu dan Nolbu
Kisah Heungbu dan Nolbu masih dinyanyikan sebagai pansori Heungbuga. Gambar: by bdnegin (Brian Negin) · CC BY-SA 3.0 · sumber
Dahulu kala di Korea hiduplah dua bersaudara, Nolbu sang kakak dan Heungbu sang adik. Watak mereka bagaikan langit dan bumi. Nolbu serakah, kikir, dan kejam. Heungbu jujur, lembut, dan selalu menolong siapa pun.
Ketika ayah mereka meninggal, Nolbu mengambil seluruh warisan untuk dirinya sendiri dan mengusir Heungbu bersama istri dan anak-anaknya. Heungbu tidak melawan. Ia membangun gubuk kecil dari jerami dan bekerja keras sebagai buruh, walau keluarganya sering kelaparan.
Suatu hari, Heungbu yang sudah tidak punya beras sama sekali datang ke rumah kakaknya untuk meminta sedikit makanan. Nolbu justru memukulinya dan mengusirnya. Heungbu pulang dengan tangan kosong, tetapi tidak menyimpan dendam.
Pada musim semi, sepasang burung layang-layang bersarang di atap gubuk Heungbu. Suatu hari seekor ular memanjat atap dan menyerang sarang itu. Seekor anak burung jatuh ke tanah, dan kakinya patah. Heungbu memungutnya dengan hati-hati, membalut kakinya dengan kain dan benang, lalu merawatnya sampai sembuh. Ketika musim gugur tiba, burung itu terbang ke selatan bersama kawanannya.
Musim semi berikutnya, burung layang-layang itu kembali. Ia menjatuhkan sebutir biji labu di halaman Heungbu. Heungbu menanamnya, dan biji itu tumbuh menjadi tanaman merambat dengan labu-labu yang sangat besar.
Pada musim gugur, Heungbu dan istrinya menggergaji labu-labu itu untuk dimakan. Ajaib, dari labu pertama keluar beras yang melimpah. Dari labu kedua keluar emas dan perak. Dari labu berikutnya muncul tukang-tukang kayu yang membangunkan sebuah rumah besar untuk mereka. Heungbu menjadi kaya raya, tetapi ia tetap rendah hati dan berbagi dengan tetangganya.
Nolbu mendengar kabar itu dan iri bukan main. Ia sengaja menangkap seekor anak burung layang-layang, mematahkan kakinya, lalu membalutnya sambil berharap mendapat hadiah yang sama. Musim semi berikutnya, burung itu memang membawakannya sebutir biji labu.
Namun ketika labu-labu Nolbu dibelah, yang keluar adalah bencana: para penagih utang, hantu-hantu goblin yang memukulinya, dan banjir kotoran yang menenggelamkan rumahnya. Dalam sekejap seluruh hartanya lenyap.
Nolbu yang jatuh miskin akhirnya datang kepada adiknya. Heungbu tidak membalas perlakuan buruk kakaknya dulu. Ia menyambutnya dengan pelukan dan membagi rumah serta hartanya. Tersentuh oleh kebaikan adiknya, Nolbu menyesali semua perbuatannya dan berubah menjadi orang yang baik.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan kepada makhluk kecil sekalipun tidak pernah sia-sia.
- Keserakahan dan kekejaman akhirnya akan berbalik kepada pelakunya.
- Memaafkan keluarga yang pernah menyakiti bisa membuka jalan bagi perubahan hatinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah rakyat Korea Heungbu-jeon (Kisah Heungbu), yang juga dikenal sebagai lakon pansori Heungbo-ga dari masa Dinasti Joseon.