Momotaro, Anak dari Buah Persik
Momotaro dan sahabat-sahabatnya menaklukkan para raksasa. Gambar: Utagawa Toyoharu · Public domain · sumber
Dahulu kala, di sebuah desa di Jepang, hiduplah sepasang kakek dan nenek. Mereka sudah tua dan belum juga dikaruniai anak. Setiap hari sang kakek pergi ke gunung mencari kayu bakar, dan sang nenek pergi ke sungai untuk mencuci pakaian.
Suatu hari, ketika nenek sedang mencuci, sebuah buah persik raksasa hanyut terbawa arus. Ukurannya luar biasa besar, belum pernah ia lihat sebelumnya. Dengan susah payah ia menariknya ke tepi dan membawanya pulang.
Sore harinya, ketika kakek hendak membelah buah persik itu, buahnya tiba-tiba terbuka sendiri. Dari dalamnya keluar seorang bayi laki-laki yang sehat dan menangis keras. Kakek dan nenek sangat bahagia. Mereka menamainya Momotaro, yang berarti “anak laki-laki dari buah persik”.
Momotaro tumbuh menjadi anak yang kuat, baik hati, dan sangat menyayangi kedua orang tuanya. Pada masa itu penduduk desa hidup dalam ketakutan. Para oni, raksasa jahat dari sebuah pulau, sering datang merampok harta dan mengganggu orang-orang.
Ketika dewasa, Momotaro berkata kepada kakek dan neneknya, “Aku akan pergi ke Pulau Oni dan menghentikan mereka.”
Dengan berat hati mereka melepasnya. Nenek membuatkan bekal kibi dango, kue bulat dari tepung jewawut, yang terbaik di seluruh Jepang.
Di tengah perjalanan, seekor anjing menghampirinya. “Momotaro, ke mana kau pergi? Bolehkah aku minta satu kue?” Momotaro memberinya satu kue dengan senang hati, dan anjing itu pun ikut menemaninya. Tak lama kemudian, seekor monyet datang dan meminta hal yang sama. Lalu seekor burung pegar. Momotaro berbagi dengan semuanya, dan kini mereka menjadi empat sekawan.
Anjing, monyet, dan burung pegar itu dulu biasa bertengkar satu sama lain. Namun di bawah ajakan Momotaro mereka belajar bekerja sama.
Setibanya di Pulau Oni, burung pegar terbang ke atas benteng untuk mengintai dan mematuk para oni. Monyet memanjat tembok dan membuka gerbang dari dalam. Anjing menggigit kaki para raksasa. Momotaro bertarung dengan gagah berani di depan.
Para oni akhirnya menyerah. Mereka berlutut dan berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu manusia. Mereka menyerahkan kembali harta yang dulu mereka rampas.
Momotaro pulang bersama ketiga sahabatnya. Harta itu dikembalikan kepada penduduk desa, dan ia hidup bahagia merawat kakek dan neneknya sampai tua.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan kecil, seperti berbagi sepotong kue, bisa melahirkan persahabatan yang besar.
- Kerja sama mengalahkan kekuatan yang jauh lebih besar, asal setiap orang menyumbangkan kemampuannya.
- Keberanian sejati dipakai untuk melindungi orang lain, bukan untuk menyombongkan diri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Jepang Momotarō, yang dikenal luas sejak zaman Edo dan hingga kini menjadi salah satu dongeng anak paling populer di Jepang.