Badang Si Kuat
Batu Singapura, pecahan batu besar di muara Sungai Singapura yang dikaitkan dengan lemparan Badang. Gambar: Bryn Pinzgauer . · CC BY 2.0 · sumber
Setiap sore Badang memasang bubu di sungai. Setiap pagi bubu itu kosong, dan hanya tersisa tulang serta sisik ikan. Ia seorang hamba milik seorang lelaki dari Sayong, dan tugasnya berat: menebang pohon dan membuka hutan. Ikan dari bubunya adalah sedikit kesenangan yang ia punya, tetapi ada yang mencurinya.
Pada suatu malam ia bersembunyi di balik semak untuk mengintai. Lewat tengah malam, sesosok makhluk air muncul dari sungai. Matanya merah, janggutnya panjang sampai ke perut, dan tubuhnya menakutkan. Tanpa takut sedikit pun terhadap siapa pun, makhluk itu membuka bubu dan melahap ikan-ikan di dalamnya.
Darah Badang naik. Ia melompat dari persembunyiannya dan mencengkeram janggut itu erat-erat, lalu menebas dengan pisaunya. Makhluk itu menjerit dan memohon-mohon.
“Lepaskan aku! Akan kuberikan apa pun yang kau minta. Mau harta? Mau jadi raja?”
Badang berpikir sebentar. Harta bisa dicuri, dan seorang hamba yang menjadi raja hanya akan dibunuh. Lalu ia melihat kapak di dekatnya.
“Berilah aku kekuatan, supaya aku bisa mencabut pohon sebesar apa pun dengan tangan.”
Makhluk itu setuju, dengan syarat yang menjijikkan: Badang harus memakan apa yang ia muntahkan. Badang menahan rasa mualnya dan menelan, sambil tetap memegangi janggut itu sampai ia yakin. Lalu ia mencoba mencabut sebatang pohon besar. Pohon itu terangkat seperti rumput.
Hutan yang semestinya dibersihkan dalam berbulan-bulan selesai dalam semalam. Tuannya tercengang, lalu memerdekakannya. Kabar tentang lelaki itu sampai ke Singapura, dan Sri Rana Wikrama, raja ketiga negeri itu, mengangkatnya menjadi hulubalang.
Berbagai cerita beredar. Badang disebut mengangkat kapal yang tak bisa didorong oleh ratusan orang, dan mengantarkan ranting pohon raksasa yang tak dapat ditebang orang lain. Namanya sampai ke negeri Kalinga di India. Raja di sana mengirim juaranya sendiri, seorang lelaki kuat, dengan membawa tujuh kapal, dan menantang berlomba. Yang kalah menyerahkan muatan kapal itu.
Kedua jagoan bertanding selama berhari-hari. Pada akhirnya raja menunjuk sebongkah batu sangat besar di hadapan balairung. Jagoan Kalinga mengerahkan seluruh tenaganya dan batu itu hanya naik setinggi lututnya, lalu jatuh berdebam. Badang maju, mengangkat batu itu ke atas kepala, dan melontarkannya sampai ke muara Sungai Singapura.
Bertahun-tahun kemudian sebuah batu raksasa bertulisan kuno memang berdiri di muara sungai itu. Orang-orang menghubungkannya dengan Badang, sekalipun Sejarah Melayu tak menyebut tulisannya. Pada 1843 Inggris meledakkannya untuk membangun tempat tinggal militer. Sebuah pecahannya, yang disebut Batu Singapura, kini dipamerkan di Museum Nasional Singapura. Tulisan itu belum terbaca sampai sekarang.
💖 Pesan Moral
- Tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan lebih berguna daripada meminta hal yang terdengar paling besar.
- Keberanian menghadapi yang ditakuti bisa mengubah nasib orang yang tampak tak punya apa-apa.
- Pintu kesempatan kadang terbuka di tempat yang tak sedap. Tak semua anugerah datang dalam kemasan yang menyenangkan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Badang dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), Singapura; rincian kisahnya berbeda-beda di antara naskahnya.