Pak Belalang si Peramal Dadakan
Seekor sapi di padang rumput, mengingatkan pada sapi-sapi yang hilang. Gambar: Cellocotak · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah kampung ada seorang lelaki bernama Pak Belalang. Kerjanya tidur, dan bila bangun, ia mencari tempat tidur yang lebih sejuk. Untung saja ia punya anak yang rajin bernama si Lemang. Anak itulah yang mengurus ladang dan makan mereka berdua.
Suatu malam, seusai badai, ayah dan anak itu pulang dari gubuk di hutan. Jalan gelap, dan langkah mereka tertahan karena di depan terlihat beberapa sosok bertopeng. Keduanya segera bersembunyi. Dari balik semak, mereka melihat orang-orang itu menggiring sapi, mengikatnya pada pohon mahoni di sebelah barat kampung, lalu pergi. Pak Belalang dan si Lemang berjalan pulang tanpa bersuara, dan begitu tiba di rumah, Pak Belalang langsung terlelap.
Pagi harinya kampung gempar. Tujuh ekor sapi hilang dari kandang. Orang-orang berlarian ke sana kemari, sedangkan kepala kampung sudah pusing mencari jejak. Di tengah keributan itu, si Lemang berlari pulang.
“Ayah, bangun! Bukankah kita tahu di mana sapi-sapi itu?”
Pak Belalang membuka sebelah matanya. Ia berpikir sebentar, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tersenyum penuh rencana.
“Diam saja, Nak. Sebentar lagi orang-orang akan datang. Ayah mau tidur lagi.”
Ketika warga datang berbondong-bondong untuk meminta pendapat, mereka mendapati Pak Belalang terbaring dengan mata terpejam. Mulutnya komat-kamit seperti orang mengigau. Orang-orang saling berbisik. Kepala kampung mendekat dengan hormat.
Dengan suara berat dan lambat, Pak Belalang berkata tanpa membuka mata, “Sediakan secangkir kopi… dan dua potong singkong setengah rebus…”
Permintaan yang aneh itu justru membuat mereka makin yakin ada ilmu yang sedang bekerja. Kopi dan singkong segera disajikan. Pak Belalang makan pelan-pelan tanpa terburu-buru. Setelah itu ia menggeliat, menarik napas panjang, dan berbicara.
“Sapi-sapi itu ada di semak-semak di sebelah barat, di bawah pohon mahoni. Aku sudah mengikat mereka dengan ilmuku supaya tidak bisa jauh. Ikuti anakku. Dia akan menunjukkan jalannya.”
Warga bergegas pergi di belakang si Lemang. Benar saja, tujuh ekor sapi itu masih terikat di tempat yang disebutkan. Sorak-sorai terdengar sampai ke ujung kampung.
Sejak hari itu, Pak Belalang dikenal sebagai ahli nujum. Warga menghadiahinya seekor kambing, dan orang-orang yang dulu mencibir kini mengangguk hormat saat ia lewat. Pak Belalang menerima semua itu dengan wajah bijaksana, lalu pulang dan kembali tidur.
Si Lemang hanya bisa menggeleng sambil memberi makan kambing barunya. Ia tahu, kebohongan seperti ini suatu hari pasti akan menuntut bayaran.
💖 Pesan Moral
- Nama besar yang dibangun dengan pura-pura harus terus dijaga dengan pura-pura. Itu pekerjaan yang lebih melelahkan daripada bertani.
- Orang mudah percaya pada yang tampak gaib. Sebelum kagum pada ramalan, tanyakan dulu dari mana datangnya pengetahuan itu.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Melayu tentang Pak Belalang, salah satu versi, yakni yang dikenal di Muara Enim, Sumatra Selatan.