Hadiah yang Ditolak
Relief Sang Buddha mengajar, koleksi Museum für Asiatische Kunst, Berlin. Gambar: Antonio Amato · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di dekat kota Rajagaha, hiduplah seorang brahmana dari keluarga Bharadvaja. Ia mendengar kabar bahwa salah seorang kerabatnya telah meninggalkan rumah dan menjadi bhikkhu, murid Sang Buddha. Kabar itu membuatnya marah besar.
Dengan wajah merah padam, ia mendatangi Sang Buddha di Hutan Bambu. Begitu sampai, tanpa memberi salam, ia langsung memaki-maki. Kata-kata kasar keluar dari mulutnya seperti air bah: tuduhan, hinaan, kutukan. Para bhikkhu di sekitar mereka terdiam.
Sang Buddha mendengarkan semuanya tanpa membalas. Wajahnya tetap teduh. Setelah brahmana itu kehabisan kata-kata dan napasnya terengah-engah, barulah Sang Buddha berbicara.
“Brahmana, bolehkah aku bertanya? Apakah ada teman, kerabat, atau tamu yang kadang-kadang berkunjung ke rumahmu?”
Brahmana itu heran mendengar pertanyaan yang tak terduga itu. “Ya, kadang-kadang ada.”
“Ketika mereka datang, apakah engkau menyuguhkan makanan, minuman, atau hidangan untuk mereka?”
“Tentu saja.”
“Dan jika mereka tidak mau menerima suguhanmu, milik siapakah hidangan itu?”
Brahmana itu mengangkat bahu. “Kalau mereka tidak menerimanya, hidangan itu tetap milikku.”
Sang Buddha mengangguk perlahan. “Begitu pula dengan hari ini, Brahmana. Engkau menyuguhkan kepadaku makian, kemarahan, dan hinaan. Tetapi aku tidak menerimanya. Maka semua itu tetap menjadi milikmu. Semua itu kembali kepadamu.”
Ia melanjutkan, “Orang yang membalas makian dengan makian, membalas amarah dengan amarah, ibarat menyantap hidangan bersama-sama. Aku tidak ikut menyantap hidangan itu. Siapa yang membalas kemarahan dengan kemarahan justru memperburuk keadaan. Siapa yang tidak membalasnya memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.”
Brahmana itu terdiam. Amarahnya seolah kehilangan tempat berpijak. Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar mendengarkan. Menurut sutta, ia kemudian menyatakan diri sebagai pengikut Sang Buddha, dan bahkan ikut menjadi bhikkhu.
Bayangkan jika saat itu Sang Buddha membalas dengan kata-kata yang sama tajamnya. Brahmana itu akan semakin marah, para bhikkhu mungkin ikut tersulut, dan pertengkaran itu bisa berlangsung berhari-hari. Tetapi karena satu pihak memilih untuk tidak menerima “hidangan” itu, api kemarahan padam dengan sendirinya, seperti api yang kehabisan kayu bakar.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa selalu mengendalikan apa yang dilemparkan orang lain kepada kita. Tetapi kita selalu bisa memilih apakah akan menerimanya atau tidak.
💖 Pesan Moral
- Hinaan hanya melukai jika kita menerimanya. Kita berhak menolak “hidangan” itu.
- Membalas amarah dengan amarah hanya membuat dua orang sama-sama terbakar.
- Ketenangan bukan kelemahan; ia adalah kemenangan yang paling sulit diraih.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Akkosa Sutta (Samyutta Nikaya 7.2) dalam Kanon Pali Buddhis.