Bubur Khichdi Birbal
Istana Kaisar Akbar dalam lukisan Mughal karya Govardhan. Gambar: Govardhan · Public domain · sumber
Pada suatu musim dingin yang menggigit, Kaisar Akbar dan Birbal berjalan di tepi sebuah danau di dekat istana. Akbar mencelupkan jarinya ke air dan segera menariknya kembali. “Dingin sekali! Kurasa tidak ada orang yang sanggup berdiri semalaman di air seperti ini.”
“Orang yang sangat membutuhkan akan sanggup melakukan apa saja, Paduka,” jawab Birbal.
Akbar penasaran. Ia mengumumkan bahwa siapa pun yang mampu berdiri di dalam danau itu sepanjang malam akan mendapat hadiah seribu keping emas.
Seorang lelaki miskin datang. Keluarganya kelaparan, dan hadiah itu bisa mengubah hidup mereka. Malam itu, di bawah pengawasan para penjaga, ia masuk ke dalam air yang membekukan sampai sebatas dada. Ia menggigil, giginya gemeletuk, tetapi ia bertahan sampai fajar.
Pagi harinya ia dibawa ke istana. Akbar bertanya dengan heran, “Bagaimana kau bisa bertahan semalaman?”
“Paduka, jauh di sana, di salah satu menara istana, ada sebuah pelita yang menyala sepanjang malam. Saya terus memandanginya, dan itu membuat saya kuat.”
Seorang menteri langsung menyela, “Kalau begitu, ia mendapat kehangatan dari pelita istana! Ia tidak pantas menerima hadiah.” Akbar mengangguk setuju. Lelaki miskin itu pulang dengan tangan hampa dan hati hancur. Birbal melihat semuanya, tetapi diam.
Keesokan harinya, Birbal tidak datang ke istana. Akbar mengirim utusan, dan utusan itu kembali dengan pesan: “Birbal sedang memasak khichdi, bubur nasi dan kacang. Ia akan datang setelah buburnya matang.”
Siang berlalu, sore pun tiba, tetapi Birbal tidak juga muncul. Akbar akhirnya pergi sendiri ke rumah Birbal. Di halaman, ia melihat api unggun kecil menyala di tanah. Jauh di atasnya, sebuah periuk tergantung di dahan pohon yang tinggi.
“Birbal, apa-apaan ini? Mana mungkin bubur itu matang kalau periuknya digantung setinggi itu dari api?”
Birbal membungkuk hormat. “Mengapa tidak mungkin, Paduka? Kalau seorang lelaki di tengah danau bisa dihangatkan oleh pelita di menara istana yang jauhnya berpuluh-puluh tombak, tentu periuk ini bisa dimasak oleh api yang hanya beberapa hasta di bawahnya.”
Akbar terdiam. Ia menyadari ketidakadilan yang telah ia lakukan. Hari itu juga, ia memanggil kembali lelaki miskin itu dan memberinya hadiah seribu keping emas, sesuai janjinya.
💖 Pesan Moral
- Janji harus ditepati, apalagi janji kepada orang kecil yang telah berjuang keras.
- Mengoreksi atasan bisa dilakukan dengan bijak: tunjukkan, bukan permalukan.
- Jangan mencari-cari alasan untuk mengingkari hak orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat India yang dikenal sebagai “Khichdi Birbal”. Kisah-kisah Akbar dan Birbal adalah tradisi lisan, bukan catatan sejarah.