Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ngengat dan Nyala Lilin

2 menit baca

Satu nyala kecil dalam gelap, yang memanggil para ngengat dalam perumpamaan Attar. Gambar: Andy / Andrew Fogg from near Cambridge, UK · CC BY 2.0 · sumber

Suatu malam, sekawanan ngengat berkumpul dengan sayap yang tak bisa diam. Mereka gelisah oleh satu pertanyaan. Di kejauhan ada cahaya yang selalu memanggil, tetapi tak seekor pun tahu apa sebenarnya cahaya itu. Lilin, kata sebagian. Namun apa itu lilin? Mereka sepakat mengutus seekor di antara mereka untuk mencari tahu.

Utusan pertama terbang menembus gelap sampai ia melihat sebuah istana di kejauhan. Di salah satu jendelanya, sebatang lilin menyala. Ia berhenti di situ. Jarak sejauh itu terasa sudah cukup. Ia berbalik pulang dan dengan bangga menceritakan apa yang ia lihat: sebuah jendela, seberkas sinar, sesuatu yang berpijar di balik kaca.

Para ngengat mendengarkan dengan kagum. Hanya ngengat tua yang menjadi pembimbing mereka menggeleng.

“Ia tidak tahu apa-apa tentang api itu,” katanya.

Maka berangkatlah utusan kedua, yang lebih berani. Ia melewati pintu istana dan masuk ke ruangan tempat lilin itu berdiri. Ia terbang berputar di tepi lingkaran cahaya, begitu dekat hingga merasakan hangatnya menyentuh sayap. Tubuhnya gemetar antara ingin maju dan ingin lari. Akhirnya rasa takut menang, dan ia pulang membawa cerita yang jauh lebih hebat. Ia bertutur tentang panas yang ia rasakan, tentang betapa jauhnya ia sudah pergi, tentang semua yang telah ia tanggung.

Para ngengat ternganga. Sekali lagi, sang pembimbing tidak terkesan.

“Pada dirimu tidak ada tanda-tanda orang yang sudah memahami nyala itu.”

Ngengat ketiga tidak banyak bicara. Ia berangkat seperti orang mabuk kepayang. Begitu melihat cahaya, ia tidak lagi menghitung jarak. Ia menukik dan membubung, berputar makin rapat, sampai tak jelas lagi mana sayapnya dan mana apinya. Lalu nyala itu menyambar ujung sayapnya, tubuhnya, kepalanya. Untuk sekejap ia sendiri menjadi merah membara, dan bentuknya lenyap di dalam cahaya.

Dari kejauhan, sang pembimbing melihat kilatan kecil itu. Lama ia terdiam.

“Dia tahu,” katanya akhirnya. “Dialah yang tahu kebenaran yang kita cari, kebenaran yang tak bisa kita ucapkan.”

Tak ada yang bertanya lagi. Yang mengetahui api itu tidak pernah pulang untuk bercerita, dan semua kawanan itu mengerti mengapa.

💖 Pesan Moral

  • Mendengar, melihat, dan mengalami adalah tiga hal yang berbeda. Orang yang membaca tentang laut belum tahu rasanya tenggelam di dalamnya.
  • Waspadalah pada kebanggaan orang yang baru mendekat. Cerita paling meyakinkan sering datang dari mereka yang berhenti di tengah jalan.
  • Pemahaman yang dalam ada harganya. Dalam tasawuf, sang ngengat melambangkan orang yang rela melepas keakuannya demi Yang Dicari.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan dalam Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya Fariduddin Attar, penyair sufi Persia abad ke-12.