Tiga Cendekia, Satu Orang Berakal, dan Seekor Singa
Singa Asia di Gir, India: makhluk yang "dihidupkan" para cendekia tanpa akal sehat. Gambar: Rohit Sharma · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah kota, hiduplah empat orang sahabat sejak kecil. Tiga di antara mereka sangat terpelajar. Mereka telah mempelajari kitab-kitab dan berbagai ilmu yang rumit, tetapi tidak punya banyak akal sehat. Yang keempat tidak terlalu suka belajar dari kitab, tetapi ia punya akal sehat yang baik.
Suatu hari mereka berempat berunding. “Apa gunanya ilmu kita kalau kita tetap miskin? Mari kita pergi ke negeri lain, memperlihatkan kepandaian kita kepada para raja, dan mencari kekayaan.”
Di tengah perjalanan, yang tertua berkata, “Tunggu dulu. Sahabat kita yang keempat ini tidak berilmu. Rasanya tidak adil kalau ia ikut mendapat bagian dari hadiah yang kita peroleh berkat kepandaian kita. Lebih baik ia pulang saja.”
Yang kedua mengangguk. Tetapi yang ketiga berkata, “Jangan begitu. Kita sudah bersahabat sejak kecil. Biarlah ia ikut dan mendapat bagian juga.” Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Ketika melewati sebuah hutan, mereka menemukan tumpukan tulang belulang seekor binatang. Mata para cendekia itu berbinar.
“Inilah kesempatan untuk menguji ilmu kita,” kata yang pertama. “Aku tahu cara menyusun kembali kerangkanya.” Ia merapal mantranya, dan tulang-tulang itu tersusun menjadi kerangka yang utuh.
“Aku bisa memberinya daging, darah, dan kulit,” kata yang kedua. Dalam sekejap, kerangka itu berubah menjadi tubuh seekor singa yang besar, lengkap dengan surainya.
“Dan aku,” kata yang ketiga dengan bangga, “bisa memberinya nyawa.”
Sahabat keempat yang sejak tadi diam langsung berseru, “Tunggu! Itu seekor singa! Kalau kau menghidupkannya, ia akan memangsa kita semua!”
Yang ketiga mencibir. “Dasar orang bodoh. Kau mau aku menyia-nyiakan ilmuku?”
“Kalau begitu, tunggu sebentar,” jawab sahabat keempat. “Biar aku memanjat pohon ini dulu.” Ia bergegas naik ke dahan yang tinggi.
Sang cendekia ketiga merapal mantranya. Singa itu membuka mata, menggeliat, berdiri, dan mengaum. Lalu ia menerkam ketiga cendekia yang berdiri tepat di depannya.
Setelah singa itu pergi, sahabat yang keempat turun dari pohon, dan dengan sedih pulang sendirian ke kota mereka.
💖 Pesan Moral
- Ilmu tanpa akal sehat bisa membahayakan, baik bagi pemiliknya maupun orang lain.
- Bisa melakukan sesuatu tidak berarti harus melakukannya. Pikirkan dulu akibatnya.
- Jangan meremehkan orang yang tampak kurang berpendidikan; kebijaksanaan tidak selalu datang dari kitab.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Para Pembuat Singa” dalam Buku Kelima Panchatantra, kumpulan fabel India kuno.