Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ibu dan Garangan yang Setia

3 menit baca

Garangan abu-abu India, hewan kecil pemberani yang dikenal tangkas melawan ular. Gambar: Tisha Mukherjee · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang brahmana bernama Dewa Sarma bersama istrinya. Setelah lama menanti, mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki. Pada hari yang hampir bersamaan, sang istri menemukan seekor anak garangan kecil yang kehilangan induknya. Karena kasihan, ia memeliharanya.

Bayi dan garangan itu tumbuh bersama. Sang ibu menyusui anaknya, dan juga memberi susu serta makanan kepada garangan itu. Garangan itu sangat jinak. Ia suka bergelung di dekat buaian, seakan-akan menjaga saudaranya.

Meski begitu, di dalam hati sang ibu selalu ada sedikit kecemasan. “Bagaimanapun, ia tetap binatang liar,” pikirnya. “Siapa tahu suatu hari ia menyakiti anakku.”

Suatu siang, sang ibu harus pergi mengambil air ke sumur. Ia menidurkan bayinya di buaian, lalu berpesan kepada suaminya, “Tolong jaga anak kita sebentar.” Tetapi tak lama kemudian, sang suami juga pergi ke desa untuk meminta derma, meninggalkan bayi itu tidur sendirian, hanya ditemani si garangan.

Sementara rumah sepi, seekor ular kobra hitam merayap keluar dari sebuah lubang dan mendekati buaian. Garangan itu melihatnya. Tanpa ragu, ia melompat menghadang. Perkelahian sengit pun terjadi. Ular itu mematuk, garangan itu menggigit, hingga akhirnya garangan berhasil mengoyak ular itu menjadi beberapa potong. Bayi itu tetap tidur dengan tenang.

Dengan bangga, garangan itu berlari keluar untuk menyambut majikannya. Moncong dan cakarnya masih berlumuran darah.

Sang ibu baru saja tiba di halaman dengan kendi air di kepalanya. Ketika melihat garangan itu berlumuran darah, pikirannya langsung melompat ke hal yang paling ia takutkan. “Ia telah membunuh anakku!”

Tanpa berpikir panjang, ia membanting kendi berisi air itu ke atas garangan. Binatang kecil itu mati seketika.

Sambil menangis, sang ibu berlari masuk ke dalam rumah. Di sana ia melihat bayinya tertidur pulas di buaian, tak tergores sedikit pun. Di lantai, di dekat buaian, tergeletak potongan-potongan tubuh seekor ular hitam besar.

Sang ibu terduduk lemas. Ia memandangi garangan setia yang telah menyelamatkan anaknya, dan yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Ketika suaminya pulang, ia menangis dan berkata, “Seandainya aku mau melihat dulu sebelum bertindak…”

Penyesalan itu datang terlambat, dan tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang telah hilang.

💖 Pesan Moral

  • Jangan bertindak sebelum memahami keadaan. Satu detik untuk memeriksa bisa mencegah penyesalan seumur hidup.
  • Prasangka membuat kita melihat apa yang kita takutkan, bukan apa yang sebenarnya terjadi.
  • Kesetiaan sering kali tidak terlihat sampai kita mau membuka mata untuk melihatnya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel pembuka Buku Kelima Panchatantra (dalam sebagian versi), yang juga muncul dalam Hitopadesha. Kisah serupa menyebar ke banyak budaya, misalnya legenda anjing Gelert dari Wales.