Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Louis Braille dan Enam Titik

3 menit baca

Louis Braille dalam ukiran karya Henri Thiriat. Gambar: Henri Thiriat · Public domain · sumber

Bengkel pembuat pelana di Coupvray, sebuah kota kecil di timur Paris, adalah tempat bermain favorit Louis Braille kecil. Ia lahir pada 4 Januari 1809, anak bungsu keluarga perajin kulit. Suatu hari, pada usia tiga tahun, ia mencoba melubangi sepotong kulit dengan penusuk milik ayahnya. Ia menunduk dekat-dekat dan menekan kuat, tetapi alat itu tergelincir dan menusuk matanya.

Mata itu tak tertolong. Lukanya terinfeksi, lalu infeksi menyebar ke mata yang sehat, dan Louis kecil menjadi buta total.

Pada Februari 1819, ketika berusia sepuluh tahun, ia berangkat ke Paris dengan beasiswa untuk belajar di Institut Kerajaan untuk Pemuda Tunanetra. Sekolah itu miskin dan bangunannya bobrok. Pendirinya, Valentin Haüy, seorang dermawan yang tidak buta, membuat buku untuk anak-anak itu dengan menimbulkan bentuk huruf biasa di atas kertas tebal. Buku-buku itu berat, jumlahnya sedikit, dan lambat dibaca dengan jari. Lebih parah lagi, muridnya bisa membaca sedikit tetapi tak bisa menulis dengan cara yang sama.

Pada 1821 sekolah itu berkenalan dengan gagasan Charles Barbier, yang merancang kode titik timbul pada kertas tebal yang bisa dibaca dengan ujung jari. Kode itu memakai sampai dua belas titik dalam dua kolom, terlalu besar untuk tersentuh sekali raba. Namun Louis, yang saat itu berusia dua belas tahun, melihat bahwa jalan keluarnya ada di sana.

Ia mengerjakannya bertahun-tahun, memakai papan dan stilus yang juga dipakai untuk kode Barbier. Ia merampingkan dua belas titik menjadi enam, disusun dalam sel kecil yang bisa dikenali dengan satu sentuhan jari. Sekitar usia lima belas tahun ia sudah memperkenalkan sistemnya kepada teman-temannya. Pada 1829 ia menerbitkan buku pertama tentang metode itu, yang juga mencakup notasi musik, sebab ia sendiri pemain organ dan selo yang mahir. Edisi kedua pada 1837 membuang tanda garis yang terbukti sulit dibaca.

Ia menjadi guru di sekolah itu, mengajar sejarah, geometri, dan aljabar, dan pada 1833 diangkat sebagai profesor penuh. Ia juga bermain organ di gereja-gereja Paris.

Pengakuan datang sangat lambat. Penyakit pernapasan yang lama diduga tuberkulosis menyerangnya selama sekitar enam belas tahun, sampai ia terpaksa berhenti mengajar pada usia sekitar 40 tahun. Ia meninggal pada 6 Januari 1852, dua hari setelah ulang tahun ke-43. Sistemnya belum resmi dipakai sekolahnya sendiri. Baru pada 1854, dua tahun sesudah ia wafat, Institut mengadopsinya, karena para murid terus mendesak.

Tulisan itu kemudian menyebar ke seluruh dunia. Pada peringatan seratus tahun kematiannya, jasadnya dipindahkan ke Panthéon di Paris, tempat tokoh-tokoh besar Prancis dimakamkan. Sebagai isyarat penghormatan, tangannya tetap dikuburkan di Coupvray, dekat rumah masa kecilnya.

💖 Pesan Moral

  • Alat yang melukai bisa menjadi alat yang menyembuhkan. Louis buta karena penusuk, dan sistem tulisannya kelak ditulis dengan stilus runcing.
  • Orang yang mengalami masalah sering melihat solusi terbaik. Sistem untuk tunanetra yang bertahan justru dirancang oleh seorang murid tunanetra.
  • Murid bisa lebih tahu daripada lembaganya. Sistem ini menang karena para pemakainya terus mendesak.
  • Jangan mengukur karya dari pujian semasa hidup. Braille tidak sempat melihat kemenangan sistemnya.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Louis Braille.