Mahatma Gandhi: Malam di Stasiun Maritzburg
Stasiun kereta Pietermaritzburg pada 1898, lima tahun sesudah malam itu. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Pengacara muda itu berusia 23 tahun dan baru beberapa minggu tiba di Afrika Selatan. Praktik hukumnya di India tidak berjalan baik, sehingga ia menerima tawaran seorang saudagar bernama Dada Abdulla untuk mengurus sebuah perkara. Perkara itu mengharuskannya pergi dari Durban ke Pretoria. Tempat di kelas satu dipesankan untuknya, dan pada 7 Juni 1893 Mohandas Karamchand Gandhi naik ke gerbong.
Kisah berikut banyak diringkas menjadi “Gandhi dilempar dari kereta”. Kita beruntung, karena ia sendiri menuliskannya dalam otobiografinya, dan rinciannya sedikit berbeda dari ringkasan itu.
Kereta tiba di Maritzburg, ibu kota Natal, sekitar pukul sembilan malam. Seorang penumpang masuk, memandanginya dari atas ke bawah, lalu keluar dan kembali bersama satu dua petugas. Seorang petugas menyuruh Gandhi pindah ke gerbong barang.
“Tetapi saya punya tiket kelas satu,” jawab Gandhi, menurut catatannya.
Tiket itu tidak ada artinya bagi si petugas. Gandhi tetap menolak turun atas kemauan sendiri, jadi seorang polisi dipanggil. Dalam otobiografinya ia menulis bahwa polisi itu memegang tangannya dan mendorongnya keluar. Barang-barangnya ikut diturunkan. Ia menolak pindah ke gerbong lain, dan kereta pun berangkat tanpa dirinya.
Ia masuk ke ruang tunggu, hanya membawa tas tangan. Saat itu musim dingin, dan Maritzburg terletak di dataran tinggi, sehingga udaranya sangat menggigit. Mantelnya ada di dalam koper, tetapi ia tak berani memintanya karena takut dihina lagi. Maka ia duduk menggigil di ruangan tanpa lampu. Sekitar tengah malam seorang penumpang masuk dan tampaknya ingin mengajak bicara, tetapi ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
Malam itu ia menimbang tiga pilihan: memperjuangkan haknya, pulang ke India, atau meneruskan perjalanan ke Pretoria tanpa peduli hinaan dan pulang setelah perkara selesai. Ia menilai pulang begitu saja adalah sikap pengecut. Kesulitan yang ia alami, tulisnya, hanyalah gejala dari penyakit yang lebih dalam, yaitu prasangka warna kulit. Penyakit itulah yang harus diusahakan untuk dicabut, walau harus menanggung kesusahan.
Pagi harinya ia mengirim telegram panjang kepada manajer umum perusahaan kereta dan mengabari Dada Abdulla. Manajer itu membenarkan tindakan petugasnya, tetapi memerintahkan agar Gandhi sampai di tujuan dengan selamat. Para pedagang India di Maritzburg datang menemuinya dan bercerita bahwa pengalaman seperti itu biasa mereka alami. Ia naik kereta berikutnya dan melanjutkan perjalanan. Hinaan belum selesai: dalam perjalanan yang sama ia dipukul karena menolak duduk di pijakan kaki kereta kuda.
Gandhi tinggal di Afrika Selatan sekitar 21 tahun. Di sanalah ia pertama kali memakai perlawanan tanpa kekerasan dalam kampanye hak sipil, sebelum kembali ke India pada 1915. Di stasiun Pietermaritzburg kini ada plakat yang menyatakan bahwa kejadian malam itu mengubah jalan hidupnya.
💖 Pesan Moral
- Rasa sakit bisa menjadi titik mulai. Hinaan yang sama sudah dialami banyak orang, tetapi Gandhi memilih menyelidiki akar masalahnya.
- Bedakan gejala dan penyakit. Yang ia lawan bukan satu petugas kereta, melainkan cara pandang yang membuat petugas itu merasa benar.
- Keputusan besar sering lahir dalam kesunyian. Tidak ada pidato pada malam itu, hanya seseorang yang kedinginan dan berpikir jujur.
- Selesaikan dulu tanggung jawab. Ia tidak membatalkan tugasnya meski dihina; ia berangkat ke Pretoria.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Mohandas K. Gandhi, terutama otobiografinya, The Story of My Experiments with Truth (Bagian II, Bab 8).