Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Si Kancil dan Buaya

3 menit baca

Buaya-buaya sungai yang rakus, "jembatan hidup" bagi si Kancil. Gambar: Calistemon · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di tepi sebuah hutan yang lebat, hiduplah seekor kancil yang kecil tubuhnya tetapi tajam akalnya. Suatu siang, perutnya keroncongan. Dari tepi sungai ia melihat kebun di seberang yang penuh buah-buahan ranum. Mentimun hijau, rambutan merah, dan pisang yang menguning seolah melambai-lambai memanggilnya.

Masalahnya, sungai itu lebar dan airnya deras. Kancil tidak pandai berenang. Lebih gawat lagi, sungai itu dihuni sekawanan buaya yang terkenal rakus.

Kancil duduk di bawah pohon dan berpikir. Ia tahu, kalau panik, ia tidak akan menemukan jalan keluar. Tak lama kemudian, matanya berbinar.

“Hai, Buaya! Hai, para buaya penghuni sungai!” serunya lantang.

Seekor buaya besar muncul ke permukaan, menyeringai. “Wah, ada makan siang datang sendiri. Ada apa, Kancil?”

“Jangan salah sangka,” jawab Kancil tenang. “Aku membawa kabar dari Raja Hutan. Raja hendak mengadakan pesta besar dan ingin membagikan daging kepada semua buaya di sungai ini. Aku ditugasi menghitung berapa jumlah kalian, supaya tidak ada yang kebagian kurang.”

Mendengar kata daging, buaya itu langsung memanggil seluruh kawanannya. “Bagaimana caranya kau menghitung kami?”

“Gampang saja. Berbarislah dari tepi sini sampai ke tepi seberang. Aku akan melompat di punggung kalian satu per satu sambil menghitung.”

Para buaya pun berjajar rapi membentuk jembatan hidup. Kancil melompat ke punggung pertama. “Satu!” Lalu ke punggung berikutnya. “Dua! Tiga! Empat!” Begitu terus sampai kakinya menjejak tanah di seberang sungai.

Sesampainya di sana, Kancil berbalik dan tersenyum. “Terima kasih, kawan-kawan. Sebenarnya tidak ada pesta. Aku hanya butuh jembatan.”

Buaya-buaya itu menggeram marah, tetapi Kancil sudah melesat masuk ke kebun. Sejak hari itu, para buaya belajar satu hal: rasa rakus membuat mereka lupa bertanya dan lupa berpikir.

Cerita ini sudah dituturkan turun-temurun oleh para orang tua di Nusantara menjelang tidur. Anak-anak tertawa melihat buaya yang besar dan kuat dikalahkan oleh hewan sekecil kancil. Namun di balik tawa itu ada pelajaran: ukuran tubuh dan kekuatan bukan segalanya. Yang menentukan sering kali adalah kepala yang dingin ketika menghadapi bahaya.

Tentu saja, para pencerita yang bijak juga mengingatkan bahwa kecerdikan Kancil dipakai untuk menyelamatkan diri dari pemangsa, bukan untuk merugikan yang lemah. Akal yang tajam adalah anugerah, dan anugerah itu sepatutnya dipakai untuk kebaikan.

💖 Pesan Moral

  • Tetap tenang saat menghadapi masalah. Kepanikan menutup jalan keluar; ketenangan membukanya.
  • Keserakahan membuat kita mudah diperdaya. Para buaya kalah bukan karena lemah, tetapi karena rakus.
  • Akal lebih kuat daripada otot, asalkan dipakai untuk tujuan yang baik.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Si Kancil yang dikenal luas di Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Melayu (Sang Kancil).