Maung Po dan Harimau
Lukisan perburuan harimau yang dikatalogkan berasal dari Burma, sekitar 1900. Harimau seperti inilah yang bersahabat dengan Maung Po. Gambar: Sailko · CC BY 3.0 · sumber
Maung Po, seorang anak desa, biasa menggembalakan ternak sampai ke tepi hutan. Di sanalah ia berkenalan dengan seekor harimau. Anehnya, keduanya jadi bersahabat. Harimau itu pandai bercerita, dan Maung Po yang kesepian senang mendengarkannya sambil duduk di atas batu.
Suatu hari harimau berkata dengan suara manis, “Sahabatku, hutan ini sedang paceklik. Tunjukkanlah jalan ke desamu. Aku hanya ingin melihat-lihat.”
Maung Po ragu, tetapi ia tak enak menolak seorang sahabat. Ditunjukkannya jalan setapak itu. Malam-malam berikutnya, ternak di desa mulai hilang satu per satu. Orang-orang desa geram. Mereka membuat kurungan kayu yang kokoh, memasang umpan di dalamnya, dan menaruhnya di jalan setapak.
Besok paginya harimau itu sudah terkurung. Warga datang berkerumun. “Biarkan saja dia di situ,” kata para tetua. “Biar lapar dan haus yang menghukumnya.” Lalu semua orang pulang.
Menjelang siang, Maung Po lewat. Harimau itu menempelkan wajahnya ke jeruji dan mulai menangis.
“Sahabatku, tolonglah. Sudah sekian lama kita berkawan. Buka pintu ini, dan aku berjanji tidak akan pernah mendekati desamu lagi.”
Hati Maung Po luluh. Ia mengangkat palang pintu kurungan. Harimau itu melangkah keluar, meregangkan badan, lalu menatap anak itu dengan mata yang berbeda.
“Terima kasih,” katanya. “Sekarang aku lapar sekali, dan kamulah yang paling dekat.”
“Kamu sudah berjanji!” seru Maung Po. “Aku menolongmu!”
Mereka masih bertengkar ketika seekor kelinci melompat keluar dari semak. Kelinci terkenal sebagai hakim paling cerdik di hutan itu. Maung Po segera memohon kepadanya agar perkara ini diadili.
Kelinci mendengarkan keduanya sambil menggaruk telinga. Lalu ia menggeleng-geleng.
“Aku bingung sekali. Hakim harus melihat sendiri kejadiannya. Tuan Harimau, di mana tepatnya Tuan berada ketika Maung Po datang?”
“Di dalam kurungan ini, tentu saja,” jawab harimau tak sabar.
“Di dalam? Di sebelah mana? Bagaimana mungkin tubuh sebesar Tuan muat di situ? Aku tak bisa membayangkannya.”
Harimau mendengus kesal. Agar perkara ini cepat selesai dan makan siangnya tak tertunda, ia masuk lagi ke kurungan. “Begini! Aku berdiri di sini!”
Kelinci mengangguk puas, lalu menoleh kepada Maung Po. “Dan bagaimana keadaan pintunya waktu itu? Coba tunjukkan.”
Maung Po, yang baru mulai mengerti, menurunkan palang pintu itu dengan tangan gemetar.
“Bagus,” kata Kelinci. “Perkara ditutup. Keadaan sudah kembali seperti semula. Pulanglah, Maung Po. Lain kali, pikirkan dulu sebelum menolong makhluk yang tabiatnya sudah kamu lihat.”
💖 Pesan Moral
- Janji dari orang yang sedang terdesak perlu ditimbang. Kebaikan hati tetap butuh kewaspadaan.
- Sebuah bantuan kecil yang keliru bisa panjang akibatnya. Masalah Maung Po bermula ketika ia menunjukkan jalan yang semestinya tidak ia tunjukkan.
- Tak harus kuat untuk mengalahkan orang kuat. Kesombongan dan ketidaksabaran lawan sering kali cukup untuk menjatuhkannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Myanmar tentang Master Po dan harimau, dengan Kelinci sebagai hakim. Pola “binatang buas yang ditolong lalu dijebak kembali” juga dikenal di India.