Anansi dan Kura-kura Makan Malam
Anansi terus menyuruh tamunya mencuci tangan agar bisa menghabiskan makanan sendiri. Kura-kura membalas dengan cara yang elegan.
Anansi terus menyuruh tamunya mencuci tangan agar bisa menghabiskan makanan sendiri. Kura-kura membalas dengan cara yang elegan.
Sultan Melaka meminang puteri di puncak gunung. Jawabannya: jambatan emas, tujuh dulang hati nyamuk, dan semangkuk darah putera Sultan sendiri.
Tiga Jumat berturut-turut Hoca naik mimbar dengan satu pertanyaan yang sama. Jemaah menyusun rencana agar ia tak bisa mengelak lagi.
Setiap malam kakak dan adik diam-diam memindahkan karung padi ke lumbung saudaranya. Anehnya, karung mereka tak pernah berkurang.
Dalam perjalanan menuju pengantinnya, seorang putri dipaksa bertukar tempat dengan pelayannya dan bersumpah untuk diam. Hanya kuda ajaibnya, Falada, yang menyaksikan semuanya.
Bocah Aksum itu tak sanggup mengikuti pelajaran dan akhirnya kabur dari rumah pamannya. Di bawah sebatang pohon, ia memperhatikan seekor ulat kecil…
Ia tidak bisa tidur dan tidak berselera makan karena takut langit runtuh. Sahabatnya datang membawa penjelasan, dan pelajaran tentang kecemasan.
Di pasar permata Basrah, seorang Arab bercerita tentang kantong yang ia temukan saat tersesat dan kelaparan di gurun. Kegembiraannya hanya berlangsung sebentar.
Bangau tua mengabarkan kolam akan kering dan menawarkan diri mengantar ikan-ikan ke danau baru. Setiap hari satu ikan pergi, dan tak satu…
Rusa mengagumi tanduknya yang megah dan membenci kakinya yang kurus. Lalu anjing-anjing pemburu datang.