Legenda Ular Putih
Adegan banjir di Gunung Jinshan, ketika Bai Suzhen dan Xiaoqing menghadapi Fahai. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber
Hujan musim semi turun tiba-tiba di Danau Barat, Hangzhou. Di dekat Jembatan Patah, seorang pemuda pembantu toko obat bernama Xu Xian melihat dua perempuan berteduh tanpa payung. Ia menyerahkan payungnya dan berjalan pulang kehujanan.
Yang ia tolong adalah Bai Suzhen dan pelayannya, Xiaoqing. Tak ada yang tahu bahwa keduanya bukan manusia. Bai Suzhen adalah ular putih yang telah bertapa selama seribu tahun sampai bisa berwujud perempuan, dan Xiaoqing ular hijau yang setia kepadanya. Bai Suzhen jatuh cinta pada pemuda yang baik hati itu. Ketika Xu Xian datang mengambil payungnya, hubungan mereka berlanjut, dan mereka menikah.
Mereka membuka toko obat sendiri. Bai Suzhen menguasai ilmu pengobatan, dan orang miskin yang berobat sering tidak dipungut bayaran. Nama toko itu harum di seluruh kota.
Namun seorang biksu bernama Fahai dari Kuil Jinshan mencium sesuatu yang tidak biasa. Ia mendatangi Xu Xian dan memperingatkannya bahwa istrinya adalah siluman. Ia menyarankan agar pada hari raya Duanwu, Xu Xian memberinya arak realgar yang ditakuti ular.
Xu Xian ragu, tetapi ia menurut. Bai Suzhen, yang sedang mengandung, meminum arak itu karena tak ingin menolak suaminya. Tubuhnya kembali ke wujud asli. Ketika Xu Xian membuka tirai kamar dan melihat ular putih raksasa, ia terkejut sampai jatuh tak bernyawa.
Begitu sadar, Bai Suzhen tidak menangisi dirinya sendiri. Ia terbang ke gunung suci untuk mencuri ramuan jamur keabadian, bertempur dengan para penjaganya, dan memohon sampai sang dewa tua tersentuh dan memberikannya. Xu Xian hidup kembali.
Fahai belum menyerah. Ia membujuk Xu Xian ke Kuil Jinshan dan menahannya di sana. Bai Suzhen dan Xiaoqing datang meminta suaminya dilepaskan. Permintaan mereka ditolak, dan dalam amarah dan putus asa Bai Suzhen memanggil air. Sungai naik dan menggenangi gunung tempat kuil itu berdiri. Banyak yang celaka karena banjir itu, dan peristiwa ini menjadi noda yang kelak harus ia tebus.
Dalam keadaan lemah karena hamil, ia kalah dan mundur. Di Jembatan Patah, tempat semuanya bermula, ia bertemu lagi dengan Xu Xian yang berhasil lolos. Mereka berdamai, dan ia pun melahirkan seorang putra.
Sebulan setelah itu Fahai datang membawa mangkuk sakti. Bai Suzhen ditangkap dan dikurung di bawah Pagoda Leifeng di tepi Danau Barat. Dalam banyak versi, putranya tumbuh menjadi sarjana terkemuka, kemudian datang bersembah di kaki pagoda untuk ibunya. Ada versi yang berakhir dengan pagoda itu runtuh dan Bai Suzhen bebas. Ketika Pagoda Leifeng yang asli benar-benar ambruk pada tahun 1924, banyak orang teringat pada legenda ini.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan seseorang lebih penting daripada asal-usulnya. Bai Suzhen menolong orang sakit lebih banyak daripada mereka yang menghakiminya.
- Keraguan yang ditanam orang lain bisa merusak rumah tangga. Tragedi ini dimulai ketika Xu Xian lebih percaya kepada orang asing daripada istrinya.
- Cinta yang benar pun tak menghapus akibat dari amarah. Banjir itu tetap melukai orang yang tidak bersalah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi Legenda Ular Putih, kisah rakyat Hangzhou yang sudah tercatat sejak Dinasti Ming dan hidup dalam banyak versi opera serta cerita lisan.