Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Orang Chelm dan Salju yang Tak Boleh Diinjak

3 menit baca

Salju yang masih bersih, pemandangan yang ingin dijaga para tetua Chelm. Gambar: Hanc Tomasz · CC BY-SA 3.0 · sumber

Kota Chelm, menurut cerita rakyat Yahudi Eropa Timur, adalah kota dengan penduduk paling bijak di dunia, setidaknya menurut penduduknya sendiri. Para tetua mereka sanggup memecahkan masalah apa pun, termasuk masalah yang tidak ada sebelum mereka turun tangan.

Suatu malam musim dingin salju turun deras. Esok paginya, sebelum matahari terbit, warga mengintip dari jendela dan menahan napas. Bukit, atap, dan jalan tertutup putih bersih, tanpa satu pun jejak. Belum pernah Chelm seindah itu.

Para tetua berkumpul sambil berdiri di depan rumah ibadah, di ambang pintu, dengan hati-hati agar tidak melangkah terlalu jauh. Salah seorang dari mereka tiba-tiba mengerutkan kening.

“Kita punya masalah gawat. Setiap pagi, si pengurus rumah ibadah berjalan dari pintu ke pintu mengetuk jendela untuk membangunkan orang untuk sembahyang. Sebentar lagi ia akan keluar. Sepatu botnya akan merusak salju seindah ini!”

Semua tetua terkejut. Bagaimana mungkin hal ini baru terpikirkan sekarang? Mereka berdiskusi lama dan penuh kesungguhan.

“Bagaimana kalau tidak usah membangunkan orang?”

“Mustahil. Nanti semua orang terlambat sembahyang.”

“Bagaimana kalau ia berjalan pelan-pelan?”

“Pelan atau cepat, kakinya tetap menginjak.”

Lalu tetua yang paling tua dan paling panjang janggutnya mengangkat telunjuk. Semua terdiam. Kalau telunjuk itu sudah terangkat, kebijaksanaan sedang dalam perjalanan.

“Masalahnya bukan pada orangnya,” katanya perlahan, “tetapi pada kakinya. Jangan biarkan kakinya menyentuh salju. Dudukkan dia di atas meja, lalu biarlah empat orang menggotong meja itu dari rumah ke rumah. Dengan begitu dia bisa mengetuk setiap jendela, dan kakinya tak akan menginjak salju sedikit pun.”

Tepuk tangan meriah. Sungguh beruntung Chelm memiliki pemikir seperti dia. Empat lelaki kekar segera dipilih. Si pengurus rumah ibadah naik ke atas meja dan duduk sambil memegang tongkat pengetuknya, wajahnya penuh wibawa. Keempat lelaki itu mengangkat meja dan berangkat.

Pagi itu warga Chelm dibangunkan seperti biasa. Tok, tok, tok di jendela, dari ketinggian yang lebih pantas. Kaki sang pengurus tidak menyentuh salju sama sekali, dan semua orang memuji rencana yang berjalan sempurna itu.

Ketika matahari sudah naik, para tetua keluar dan memandang kota mereka. Di seluruh jalan tampak jejak sepatu bot besar, delapan kaki yang berjalan bolak-balik, dalam dan berantakan, dari ujung ke ujung kota.

Mereka berdiri lama. Tetua yang paling tua mengamati jejak-jejak itu, mengangguk puas, lalu menunjuk dengan bangga.

“Perhatikan. Dari sekian banyak jejak itu, tidak ada satu pun jejak kaki si pengurus.”

Soal yang lain, tentu saja, akan dibahas dalam sidang berikutnya. Mungkin para penggotong itu perlu digotong juga.

💖 Pesan Moral

  • Jangan memecahkan masalah sambil melupakan tujuannya. Yang ingin dijaga adalah saljunya, bukan kaki satu orang.
  • Bila rencana Anda membutuhkan empat orang untuk menghindari satu pasang jejak, mungkin sudah saatnya rapat diakhiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Yahudi tentang orang-orang bijak Chelm. Kisah ini punya banyak versi, dan ini mengikuti salah satu versi lisan dengan meja digotong empat orang.