Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bulbul dan Mawar

4 menit baca

Burung dan mawar dalam miniatur Persia tahun 1856-57, tema gul-o-bulbul yang sudah lama dikenal jauh sebelum dongeng Wilde. Gambar: Bonhams · Public domain · sumber

“Dia bilang mau berdansa denganku kalau kubawakan mawar merah,” ratap seorang mahasiswa muda. “Tetapi di seluruh kebunku tak ada satu pun mawar merah.”

Dari sarangnya di pohon ek, seekor burung bulbul mendengar dan mengintip di sela daun. Malam demi malam ia menyanyikan cinta sejati kepada bintang-bintang, tanpa pernah bertemu orangnya. Kini, pikirnya, inilah dia.

Mahasiswa itu menjatuhkan diri ke rumput dan menangis. Pangeran akan mengadakan pesta dansa besok malam. Gadis pujaannya akan hadir, tetapi tanpa mawar merah ia akan melewatinya begitu saja. Seekor kadal kecil yang lewat bertanya, mengapa orang itu menangis? Karena mawar merah, jawab si bulbul. Mereka tertawa. Bulbul tidak ikut tertawa. Ia membentangkan sayap cokelatnya dan terbang.

Ia mendatangi pohon mawar di tengah halaman. “Berilah aku mawar merah, dan akan kunyanyikan lagu termerdu.” Pohon itu menggeleng. Mawarnya putih. Pohon di dekat jam matahari juga menggeleng, mawarnya kuning. Pohon di bawah jendela si mahasiswa menjawab, “Mawarku merah, tetapi musim dingin membekukan urat-uratku, dan badai mematahkan dahanku. Tahun ini aku tak akan berbunga.”

“Satu saja. Adakah caranya?”

“Ada, tetapi terlalu mengerikan untuk diceritakan.”

“Katakan. Aku tidak takut.”

“Kalau kamu menginginkan mawar merah, kamu harus membangunnya dari musik di bawah sinar bulan, dan mewarnainya dengan darah jantungmu. Bernyanyilah sepanjang malam dengan dada menekan duri, sampai duri itu menembus jantungmu.”

Bulbul terdiam. Nyawa itu mahal. Enak rasanya duduk di hutan hijau, memandang matahari dan bulan. Namun ia memutuskan bahwa cinta lebih berharga daripada hidup.

Ia kembali kepada si mahasiswa yang masih terbaring. “Bergembiralah, kau akan mendapat mawar merahmu. Aku hanya meminta satu hal: jadilah pencinta sejati.”

Mahasiswa itu mendongak, tetapi tak mengerti. Ia hanya mengerti apa yang tertulis di buku. Pohon ek yang lebih paham meminta satu lagu terakhir, karena ia akan kesepian. Bulbul bernyanyi untuknya. Mahasiswa itu mencatat di buku kecil bahwa suara burung itu indah, tetapi sayang, tidak ada gunanya. Lalu ia tidur.

Ketika bulan naik, bulbul terbang ke pohon mawar dan menempelkan dadanya pada duri. Sepanjang malam ia bernyanyi, dan duri itu masuk makin dalam. Di pucuk tertinggi mekar sekuntum mawar, kelopak demi kelopak, lagu demi lagu. Mula-mula pucat seperti kabut di sungai. Ketika ia menyanyikan cinta yang tumbuh antara lelaki dan perempuan, warna merah muda muncul, tetapi inti bunganya tetap putih.

“Tekan lebih dalam, bulbul kecil,” seru pohon itu, “nanti keburu siang!”

Bulbul menekan lebih dalam. Duri menyentuh jantungnya, dan rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Lagunya kian liar. Ia menyanyikan cinta yang disempurnakan oleh maut, yang tidak mati di dalam kubur. Mawar itu menjadi merah semerah langit timur. Suaranya melemah, sayapnya bergetar, dan matanya berkabut. Bulan lupa pada fajar dan berlama-lama di langit untuk mendengarkan satu ledakan lagu terakhir.

“Lihat, mawarnya sudah jadi!” seru pohon itu. Bulbul tidak menjawab. Ia tergeletak di rumput tinggi, dengan duri di jantungnya.

Siang harinya mahasiswa itu membuka jendela. “Wah, nasib baik! Mawar merah!” Ia memetiknya dan berlari ke rumah profesor. Gadis itu sedang menggulung benang sutra biru.

“Ini mawar termerah di dunia. Pakailah malam ini.”

Gadis itu mengerutkan kening. “Sepertinya tidak cocok dengan gaunku. Lagi pula, keponakan Pak Kepala Rumah Tangga Istana mengirimiku perhiasan sungguhan, dan semua orang tahu permata lebih mahal daripada bunga.”

Mahasiswa itu marah dan melempar mawar itu ke jalan. Bunga itu jatuh ke selokan dan terlindas roda gerobak. Ia pulang sambil bergumam bahwa cinta itu konyol dan tak sepraktis logika. Lalu ia menarik sebuah buku tebal berdebu dan mulai membaca.

💖 Pesan Moral

  • Pengorbanan terbesar bisa jatuh ke tangan yang tak mampu menghargainya. Sebelum memberi segalanya, kenali dulu kepada siapa kita memberi.
  • Ada yang fasih berbicara tentang cinta tanpa pernah sungguh mencintai. Si mahasiswa menangis untuk dirinya sendiri, bukan untuk gadis itu.
  • Jangan mengukur nilai dengan harga. Gadis itu memilih permata dan tak pernah tahu apa yang ia tolak.
  • Ketulusan tetap punya martabat, meski dunia tak mencatatnya. Hanya pohon ek yang berduka untuk bulbul itu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Oscar Wilde, “Bulbul dan Mawar”, dalam kumpulan The Happy Prince and Other Tales (1888).